Tampilkan postingan dengan label Pesan Moral. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesan Moral. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 November 2025

Kapan Berhenti Berjuang ??

BERJUANG DI SISA UMUR UNTUK MENDAPAT SURGA-NYA ATAU TERLENA KENIKMATAN DUNIA FANA

Sobat gudang da'i, Dunia memang fana, dan Allah Azza wa Jalla akan mencabut segala bentuk kenikmatan duniawi sesuai dengan kehendak-Nya, kapanpun Dia berkehendak. Namun kenapa masih banyak di antara kita yang terlena dan justru membiarkan diri terhanyut dalam kemilau duniawi yang pada akhirnya tak bisa menyelamatkan kita di akhirat kelak? Semoga kita bisa selalu menjaga diri dari keterlenaan duniawi yang bisa membuat kita lupa, bahwa sesungguhnya Allah Azza wa Jalla terus memperhatikan kita, mengawasi setiap gerak-gerik kita, bahkan apapun yang kita sembunyikan jauh di dasar hati kita, Allah Azza wa Jalla pasti tahu, karena Dia adalah Sang Maha Tahu.

Sudah semestinya kita sadari bahwa semua yang ada di dunia ini pastilah akan sirna, termasuk kekuasaan, kekayaan, popularitas, juga segala hal lainnya yang ada di dalamnya, cepat atau lambat akan meninggalkan kita. Kekuasaan, tak mampu melindungi diri dari kematian. Harta kekayaan, tak mampu menunda ajal yang datangnya sudah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla. Popularitas pun tak dapat menjadi penyelamat tatkala malaikat maut datang menjemput. Semua yang kita miliki selama di dunia ini, tak akan selamanya dapat kita miliki ataupun kita pertahankan.

Hakikat dunia adalah negeri yang sementara, bukan negeri keabadian. Jika kita memanfaatkan dunia dan menyibukkannya dengan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla maka kita akan memetik hasilnya di akhirat kelak. Adapun jika kita menyibukkannya dengan syahwat, maka kita akan merugi, baik di dunia, apalagi di akhirat.

Hal ini sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla,

خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” 

(QS. Al-Hajj: 11)

Siapapun yang selama hidupnya hanya memikirkan dunia, maka kelak Allah Azza wa Jalla akan membuat dia terletih-letih dalam mengejarnya. Berbeda dengan orang menjadikan akhirat sebagai prioritas utamanya, maka dunia dengan sendirinya akan melayaninya. Bukan berarti kita tidak boleh memiliki banyak harta, akan tetapi kekayaan yang kita miliki justru harus bisa menjadi pemberat amalan baik kita di akhirat nanti. Bukan seperti yang terjadi pada saat ini, ketika banyak orang berlomba-lomba ingin menjadi berkuasa, kaya raya, maka mereka melakukan segala cara, termasuk hal-hal yang diharamkan.

Lain halnya dengan orang-orang yang menyibukkan dunia dengan sesuatu yang akan bermanfaat untuknya kelak di sisi Allah Azza wa Jalla, mereka adalah orang-orang yang beruntung, baik di dunia maupun di akhirat. Dia beruntung di dunia karena menyibukkan diri dalam amal kebaikan. Demikian pula, dia beruntung di akhirat karena telah membekali diri dengan berbagai amal shalih.

Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Qur'an,

فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا

“Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdaya kamu.” (QS. Luqman: 33)

Dalam ayat ini, Allah Azza wa Jalla melarang kita untuk terperdaya dengan kehidupan dunia. Jangan sampai kita sibuk dengan kehidupan dunia dan lalai dengan kehidupan akhirat. Bahkan maksudnya, sibukkanlah dunia ini dengan niat untuk menolongmu dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Barangsiapa yang memanfaatkan dunia ini dan menyibukkannya untuk kebaikan dan maslahat agama dan dunianya, merekalah orang-orang yang beruntung. Akan tetapi, barangsiapa yang sibuk dengan dunia dan menjadikan dunia itu sendiri sebagai tujuan dan hasratnya, mereka ini sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla,

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ

“Allah meluaskan rizki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu dibanding dengan kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan yang sedikit.” (QS. Ar-Ra’du: 26)

Hari ini saatnya kita bisa beramal, tanpa menghitungnya, kelak di akhirat kita hanya bisa menghitung amal tanpa bisa beramal lagi. Pada akhirnya apa yang sudah kita persiapkan untuk menghadapi kematian? Hanya ada dua pilihan untuk kita, berjuang di sisa umur kita untuk mendapatkan surga-Nya atau terlena oleh kenikmatan hidup dunia yang fana.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa meningkatkan amal shaleh sebagai bekal terbaik kehidupan di akhirat untuk meraih ridha-Nya.

Jangan Lupa untuk mendapatkan Banyak Makalah dan Skripsi, silahkan berkunjung ke Tempat Makalah dan Skripsi Terlengkap

Rabu, 19 November 2025

Jujur adalah keniscayaan

JUJUR ITU KETENANGAN DAN DUSTA ITU KERAGU-RAGUAN


Sobat gudang da'i,Tidak ada yang Allah Azza wa Jalla jauhkan atau dekatkan, melainkan di situ ada kebaikan.

Tidak ada yang Allah Azza wa Jalla tunda atau segerakan, melainkan di situ ada kebaikan.

Tidak ada yang Allah Azza wa Jalla pisahkan atau pertemukan, melainkan di situ juga ada kebaikan.

Sebab Allah Azza wa Jalla lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita, sedangkan kita tidak pernah mengetahuinya...

Jadi, ketenangan sangat kita perlukan dalam menghadapi berbagai situasi dalam hidup ini. Terutama dalam situasi sulit dan ditimpa musibah. Jika hati dalam kondisi tenang, maka buahnya lisan dan anggota badan pun akan tenang. Tindakan akan tetap pada koridor yang dibenarkan dan jauh dari sikap membahayakan. Kata-kata akan tetap dalam hikmah dan tidak keluar dari kesantunan, sesulit dan separah apa pun situasi yang sedang kita hadapi.

Ketenangan itu pada hakikatnya milik orang yang beriman. Ketenangan adalah karunia Allah Azza wa Jalla yang hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman. Allah Azza wa Jalla berfirman,

ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al Taubah: 26)


لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبً

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).”(QS. Al Fath: 18)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya pernah mengulang-ulang kalimat doa berikut dalam perang ahzab,

فَأَنْزِلَنَّ سَكِيْنَةً عَلَيْنَا   وَثَبِّتِ الأَقْدَامِ إِنْ لَاقِينَا

“Maka turunkanlah ketenangan kepada kami, serta teguhkanlah kaki-kaki kami saat kami bertemu musuh.”

Maka Allah Azza wa Jalla memberikan mereka kemenangan dan meneguhkan mereka.

Agar kita tetap tenang juga dianjurkan untuk senantiasa membaca Al Qur'an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ »

“Ia adalah ketenangan yang turun karena Al Qur'an.” (HR. Bukhari: 4839, Muslim: 795)

Memperbanyak dzikrullah juga dapat mejadikan kita tenang. Allah Azza wa Jalla berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenang.” (QS. Al Ra’du: 28)

Demikian halnya bersikap _wara’_ (hati-hati) dari perkara syubhat dapat menjadikan kita tetap tenang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْبِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَالإِثْمُ مَا لَمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلَمْ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَإِنْ أَفْتَاكَ الْمُفْتُونَ

“Kebaikan itu adalah yang jiwa merasa tenang dan hati merasa tentram kepadanya. Sementara dosa adalah yang jiwa merasa tidak tenang dan hati merasa tidak tentram kepadanya, walaupun orang-orang mememberimu fatwa mejadikan untukmu keringanan.” 

(HR. Ahmad no. 17894, dishahihkan al Albani dalam Shahih al Jami no. 2881)

Ketenangan juga dapat kita peroleh dengan jujur dalam berkata dan berbuat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

“Sesungguhnya jujur itu ketenangan dan dusta itu keragu-raguan.” (HR Tirmidzi no: 2518)

Jika kita dapat mempertahankan ketenangan hati sehingga senantiasa teguh berada dalam jalan Allah Azza wa Jalla, apa pun yang terjadi kepada kita, maka bergembiralah, karena kelak saat kita meninggalkan dunia yang fana ini, akan ada yang berseru kepada kita dengan seruan ini,

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ﴿٢٧﴾ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً﴿٢٨﴾فَادْخُلِي فِي عِبَادِي

"Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi di-ridhai-Nya. Kemudian masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. Al-Fajr: 27-30)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa menjaga ketenangan hati dan teguh berada dalam jalan Allah Azza wa Jalla  apa pun yang terjadi untuk meraih ridha-Nya.

Sabtu, 01 November 2025

Salah Niat apa yang terjadi

NIATKAN HIDUP DI DUNIA UNTUK KEABADIAN DI AKHIRAT



Sobat gudang da'i,Tak sedikit manusia yang lalai atau terperosok dalam fananya kehidupan dunia. Apalagi dengan berbagai potensi dan nikmat yang melimpah ruah yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada hamba-hamba-Nya.

Sejak awal Allah Azza wa Jalla menggariskan misi utama, yaitu _dzikra ad-dar_ atau menjadikan Akhirat sebagai tujuan dan dunia menjadi perantara yang menghubungkannya.

Bahwa pekerjaan utama orang beriman adalah senantiasa ber amar ma'ruf nahi munkar (menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran) di jalan Allah Azza wa Jalla. Menyeru kepada segenap manusia untuk mengingat kehidupan Akhirat ( akhirat oriented).

Ketika orang itu meniatkan hidupnya di dunia untuk kehidupan abadi di hari Akhirat, niscaya seluruh perilakunya senantiasa terkontrol dengan rambu-rambu syariat.

Bahkan ketika ia menguasai segenap kekuasaan dan kekuatan serta ilmu pengetahuan sebagai pilar utama dalam meraih sukses hidup. Iapun tak mudah goyah dari setiap bujuk rayu kesenangan dunia. Oleh karenanya Allah Azza wa Jalla tak segan menyanjung manusia demikian sebagai manusia-manusia terbaik pilihan Allah Azza wa Jalla. Hal itu dikarenakan seluruh amal perbuatannya bernilai ibadah di sisi Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَٱذۡكُرۡ عِبَـٰدَنَآ إِبۡرَٲهِيمَ وَإِسۡحَـٰقَ وَيَعۡقُوبَ أُوْلِى ٱلۡأَيۡدِى وَٱلۡأَبۡصَـٰرِ (٤٥) إِنَّآ أَخۡلَصۡنَـٰهُم بِخَالِصَةٍ۬ ذِڪۡرَى ٱلدَّارِ (٤٦) وَإِنَّہُمۡ عِندَنَا لَمِنَ ٱلۡمُصۡطَفَيۡنَ ٱلۡأَخۡيَارِ (٤٧)

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan menganugerahkan kepada mereka akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan manusia kepada negeri Akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (QS. Shad: 45-47)

Menurut mufassir  Abdurrahman as-Sa’di, para Nabi yang digelari _al-mushtafaina al-akhyar_ (orang-orang pilihan di sisi Allah) disebabkan mereka banyak mengingat mati dan Hari Akhirat. Dengannya, hati mereka tenang menghadapi godaan dunia. Jiwa mereka khusyuk menghamba hanya kepada Allah Azza wa Jalla.Di waktu yang sama, orang-orang pilihan Allah Azza wa Jalla itu kian bergairah menunaikan aktifitas yang berdimensi sosial.

Mereka sadar, ilmu itu bisa mengalirkan pahala ketika diamalkan dan diajarkan kepada orang lain. Mereka yakin, kekuasaan tersebut baru bermanfaat jika dimaksimalkan untuk mengayomi seluruh lapisan masyarakat.

Dalam ayat di atas, secara tersurat akan menyebut sebagian rahasia kemuliaan Nabi Ibrahim dan keturunannya, yaitu ulil aidiy dan ulil abshar.

Imam Mujahid menerangkan, ulil al-aidiy adalah kekuatan untuk taat beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dan ulil al-abshar berarti pandangan mendalam tentang al-haq (kebenaran)...

Sedang Qatadah dan as-Siddiy menuturkan, ulil aidiy dan ulil abshar bermakna mengerahkan segenap kekuatan fisik dalam rangka beribadah dan kemapanan ilmu agama.

Jadikanlah hal tersebut sebagai sebab dan bukan tujuan. Menurut al-Alusi, pengarang _Tafsir Ruh al-Ma’ani_, meski Allah Azza wa Jalla memerintahkan secara langsung untuk meraih dan mengumpulkan dua kekuatan tersebut, namun tujuan kehidupan seorang Muslim bukan untuk meraih itu semata. Karena ia hanyalah sebab dan sarana saja. Bukan sebagai tujuan akhir kehidupan kita...

Dzikru as-sabab yuradu bi hi al-musabbab (Menyebutkan suatu sebab namun yang diinginkan adalah akibat). Demikian sebuah kaidah ilmu  mengajarkan. Sesungguhnya dua potensi yang diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla tersebut hanyalah sebagian dari materi yang ada dalam kehidupan dunia.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa setiap amal perbuatan kita bernilai ibadah untuk meraih ridha-Nya.

Jumat, 24 Oktober 2025

Bersabar dan Berbagi saat ada rizki

BERSABARLAH DI KALA SULIT, BERBAGILAH KETIKA ADA


Sobat gudang da'i, Sedalam apapun jurang, pasti ada dasarnya⁣. Seberat apapun ujian, pasti ada jalan keluarnya⁣. Ingatlah janji Allah Azza wa Jalla, bahwa Dia tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya⁣...

Sebab Allah Azza wa Jalla itu Maha Adil, Ia tahu betul kapasitas setiap hamba-Nya dalam menghadapi ujian. Apapun cobaan yang menimpa kita saat ini, Allah Azza wa Jalla tahu kita mampu melewatinya.⁣

Ingatlah bagaimana Allah Azza wa Jalla menolong Nabi Yunus 'alaihi sallam ketika terjebak dalam perut ikan, atau bagaimana menakjubkannya pertolongan Allah Azza wa Jalla kepada Maryam ketika ia menghadapi ujian fitnah yang luar biasa dahsyat, sampai membuatnya berpikir lebih baik ia mati dan terlupakan daripada harus menanggung beban begitu berat⁣.

Tapi Allah Azza wa Jalla Maha Menepati Janji. Ia pasti menolong hamba-Nya selama hamba tersebut _tawakkal_ (berserah diri) terhadap segala ketetapan-Nya⁣.

Makin bertambah usia, menjadikan kita manusia yang mampu menempatkan diri dalam posisi yang semestinya. Tak perlu merasa hebat sendirian, tak perlu takut ketika ditinggalkan, tak harus putus asa saat gagal, tak harus lupa di tengah keberhasilan. Akan ada masa kita berada di posisi tertekan. Menjadi suruhan, menjadi orang yang tak dihargai akan setiap pekerjaan yang kita lakukan.

Selama proses kehidupan berjalan, kita akan merasakan memilih dan menerima. Ada saat di mana kita dihadapkan pada keputusan yang sulit, ada masanya kita tidak bisa memilih. Ada waktu ketika kita butuh memeluk orang lain untuk menunjukkan dukungan kita. Tapi ada waktu ketika harus menolak memeluk mereka, karena dukungan kita akan disalahgunakan.

Hidup ibarat tangga yang terus naik. Dan setiap tangga yang kita naiki adalah sebuah ilmu, pengalaman, umur dan kedewasaan yang akan terus bertambah seiring perjalanan waktu. Pada saatnya nanti, cepat atau lambat tangga yang kita naiki akan rapuh, seakan tidak kuat lagi menopang beban kita, hingga akhirnya jatuh ke bawah. Hidup hanya sementara, persiapkan diri kita sebaik-baiknya. Karena kita tidak pernah tahu kapan dan di mana kita akan jatuh ke bawah.

Bersabarlah di kala sulit, berbagilah ketika ada, akan terasa indah karena saling melengkapi. Karena itu, jangan terlalu sedih ketika semuanya pergi, hilang dan terjatuh. Semua akan kita sikapi dengan sabar dan syukur pada masanya.

Salamah bin Dinar rahimahullah berkata,

‏شيئان إذا عمِلت بهما أصَبْت بهما خير الدنيا والآخرة

تعمل ما تكره إذا أحبَّه اللَّه، وتترك ما تحب إذا كرهه اللَّه

"Ada dua perkara yang jika engkau lakukan maka engkau akan meraih kebaikan dunia dan akhirat; engkau melakukan apa yang tidak engkau sukai jika Allah Azza wa Jalla mencintainya, dan engkau tinggalkan apa yang engkau sukai jika Allah Azza wa Jalla membencinya."(Al Ma’-rifah wat Tarikh, jilid 1 hlm. 381)

Teruslah beramal karena Allah Azza wa Jalla, agar peluh kita tak sia-sia. Agar lelah kita menjadi _lillah_ (karena Allah). Jangan kita hentikan amal kita karena berlinang air mata kecewa yang menghadang jalan kita. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tak pernah luput hitungan-Nya. Ia akan senatiasa meninggikan setiap hamba-Nya yang senantiasa berihtiar hingga jatuh bangun menyempurnakan pengabdian pada-Nya.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah berihtiar menyempurnakan pengabdian kepada Allah Azza wa Jalla untuk meraih ridha-Nya.

Selasa, 14 Oktober 2025

Ukur kesedihanmu jangan lebay

BERSEDIHLAH SEKEDARNYA DALAM SEBUAH PENERIMAAN IRADAH-NYA


Sobat gudang da'i, Seandainya saja kita tahu bahwa apa-apa yang dianggap milik adalah hanya sebuah titipan, maka kita akan sadar diri. Ingat, segala hal yang kita punya saat ini hanyalah titipan Allah Azza wa Jalla, pasti, cepat atau lambat kita akan berpisah dengannya. Maka cintailah segala hal yang ada pada hidup kita karena Allah Azza wa Jalla. Sehingga, bila ketetapan-Nya datang, kita tak akan menolak dan terus meratap. Melainkan, bersedihlah sekadarnya dalam sebuah penerimaan iradah-Nya. Karena kita yakin, tidak ada ketentuan terbaik selain takdir yang Allah Azza wa Jalla berikan.

Al-Qur’an telah menjelaskan bahwasannya seluruh alam beserta isinya ini adalah milik Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firman-Nya,

أَلا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ أَلا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ

”Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya.” (QS. Yunus: 55)

Semua yang kita miliki, baik harta benda, jabatan pekerjaan hingga keluarga, baik pasangan dan anak-anak yang kita kasihi adalah titipan Allah Azza wa Jalla. Suatu saat entah kapan, bagaimana dan di mana, semua itu akan kembali kepada Allah Azza wa Jalla, begitupun diri kita sendiri.

Saudaraku, Sadarkah bagaimana jika semua yang kita miliki hilang semuanya saat ini juga? Apa yang akan kita lakukan jika semua yang ada dalam genggaman kita lepas tanpa pernah kita duga? Sering kita lupa akan hal itu. Akibatnya kita sombong, merasa yang paling kuat, paling kuasa dan berbuat sewenang-wenang, merasa bisa menghadapi segalanya. Betapa sering diri ini lupa diri membangga-banggakan sesuatu yang seharusnya lebih baik disyukuri bukan dipamer-pamerkan. Dan seringkali diri ini lupa bahwa semuanya hanyalah titipan dari-Nya.

Saudaraku, Pada hakikatnya, manusia dikaruniai oleh Allah Azza wa Jalla harta  dan tahta adalah sebagai titipan dan amanah yang harus dipergunakan sebagaimana mestinya. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfaal: 28)

Saudaraku,Hidup ini bukan kita yang punya. Harta, kehidupan, dan nyawa, semua itu adalah titipan. Tak pernah ada yang benar-benar kekal. Tak pernah ada yang bisa kita genggam untuk selamanya. Bahkan napas yang kita miliki ini pun suatu saat akan diambil lagi oleh-Nya.

Allah Azza wa Jalla telah menciptakan manusia dalam tabiat cinta terhadap harta. Akan tetapi, Allah Azza wa Jalla mencela pada orang yang berlebihan mencintai harta hingga menyebabkan dirinya menjadi seorang yang bakhil, sombong, dan lupa terhadap Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla telah berfirman mengenai hal tersebut,

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

”Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20)

إِنَّ الإنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ * وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ * وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

”Dan sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya. Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan sendiri keingkarannya. Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (QS. Al-‘Aadiyaat: 6-8)

كَلا إِنَّ الإنْسَانَ لَيَطْغَى * أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى

”Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena melihat dirinya serba cukup” (QS. Al-‘Alaq: 6-7)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munafiquun: 9)

Saudaraku, Cinta yang berlebihan terhadap harta dan tahta menyebabkan kita lupa mati sampai diri kita dibungkus kain kafan dan dimasukkan ke liang lahat. Allah Azza wa Jalla telah berfirman,

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ * حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ * كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ * ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ * كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ * لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ * ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ * ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيم

”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu itu, dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul-yaqiin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan yang kamu megah-megahkan di dunia itu.” (QS. At-Takaatsur: 1-8)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa menjaga setiap amanah titipan dari Allah Azza wa Jalla dengan sebaik-baiknya untuk meraih ridha-Nya.

Selasa, 07 Oktober 2025

Stop perbudakan NAFSU

 JADILAH MANUSIA BEBAS, JANGANLAH DIPERBUDAK OLEH KEINGINAN DAN AMBISI

Sobat gudang da'i, Ibnu Athaillah As-Sakandari memberikan nasihat,

"أنْتَ حُرٌ مِمّا أنْتَ عَنْهُ آيِسٌ، وَعَبْدٌ لِما أنْتَ لَهُ طامِع"ٌ. (ابن عطاء الله السكندري)

"Kamu menjadi manusia bebas terhadap sesuatu yang tak pernah kamu inginkan, dan kamu menjadi budak terhadap sesuatu yang kamu ambisikan."(Ibnu Athaillah As-Sakandari)

Dalam suatu hadits disebutkan bahwa manusia bisa menjadi “budak harta” atau “budak uang” karena tamak dan rakusnya mereka dengan harta.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﺪِّﻳْﻨَﺎﺭِ ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﺪِّﺭْﻫَﻢِ، ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟْﺨَﻤِﻴْﺼَﺔِ ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟْﺨَﻤِﻴْﻠَﺔِ ﺇِﻥْ ﺃُﻋْﻄِﻲَ ﺭَﺿِﻲَ ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳُﻌْﻂَ ﺳَﺨِﻂَ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wool/sutera). Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah.”(HR. Bukhari)

Manusia yang rakus dan tamak menjadi budak harta karena manusia harus menjaga harta tersebut, yang terkadang menjaga harta seperti seorang budak yang menjaga seorang raja atau menjaga majikannya. Perlu tenaga, perhatian dan konsentrasi yang benar-benar penuh untuk menjaga harta, bahkan untuk menjaga harta perlu mengorbankan segalanya.

Ibnul Qayyim menjelaskan perbedaan harta dan ilmu, beliau berkata,

ﺃﻥ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻳﺤﺮﺱ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﻭﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻳﺤﺮﺱ ﻣﺎﻟﻪ

“Ilmu itu menjaga pemiliknya sedangkan pemilik harta akan menjaga hartanya.” 

(Miftah Daris Sa’adah 1/29)

Tidaklah heran apabila manusia banyak yang menjadi budak harta dan dunia karena harta adalah fitnah (ujian) terbesar bagi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (ujiannya) dan fitnah umatku adalah harta.” 

(HR. Bukhari)

Manusia menjadi budak harta juga karena kerakusan dan ketamakan mereka dengan harta, bahkan manusia lebih rakus daripada serigala yang lapar sekalipun.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«مَا ذئبان جَائِعَانِ أُرسِلاَ في غَنَمٍ بأفسَدَ لها مِنْ حِرصِ المرء على المال والشَّرَف لدينهِ

“Tidaklah dua serigala lapar yang menghampiri seekor kambing lebih berbahaya baginya dari ambisi seseorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya.” (HR. Tirmidzi no. 2376)

Inilah hakikat harta dan dunia yang bisa menipu manusia. Manusia yang tamak mengira bahwa merekalah raja dan tuan, tetapi sesungguhnya mereka telah diperbudak oleh harta dan dunia.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

ﻭَﻏَﺮَّﺗْﻬُﻢُ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺷَﻬِﺪُﻭﺍ ﻋَﻠَﻰٰ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻛَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ

“Kehidupan dunia telah menipu mereka.” (QS. Al-An’am: 130)

Karenanya kita diperintahkan agar benar-benar menjaga diri kita dari kelalaian karena harta. Allah Azza wa Jalla berfirman,

ﻳﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻻَ ﺗُﻠْﻬِﻜُﻢْ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟُﻜُﻢْ ﻭَﻻَ ﺃَﻭْﻻَﺩُﻛُﻢْ ﻋَﻦْ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻔْﻌَﻞْ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺄُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮُﻭﻥَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al Munafiqun: 9)

Semestinya dengan dikaruniai harta-harta dan anak-anak menjadikan kita senantiasa bersyukur, qana'ah (merasa cukup), semakin dekat dan semakin taat kepada Allah Azza wa Jalla.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayahnya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa qana'ah atas tidak diperbudak terhadap sesuatu yang diinginkan dan diambisikan untuk meraih ridha-Nya.

Sabtu, 04 Oktober 2025

Barometer Bahagia

MENGIZINKAN HATI UNTUK RIDHA ATAU UNTUK BERSABAR

Sobat gudang da'i,Perasaan bahagia tidak sama bagi setiap orang. Setiap orang mempunyai kriteria masing-masing, yang disesuaikan dengan keinginan dan tujuan yang hendak dicapainya. 

Ada orang-orang yang merasa bahagia karena bisa menghirup udara bebas dan bisa menikmati betapa indahnya dunia ini. Ada juga yang bahagia jika memiliki banyak harta dan teman, dan tak sedikit pula orang akan merasa bahagia jika hasrat dan ambisinya telah berhasil terpenuhi.

Boleh jadi kita belum merasa bahagia hingga saat ini dikarenakan kita belum mengizinkan hati kita untuk ridha. Mungkin kehidupan ini terlalu berat untuk kita hadapi, setiap hari yang kita rasakan hanyalah masalah yang datang silih berganti. Kita merasa hanya nasib buruk yang datang kepada kita. 

Saudaraku, Meski memperoleh berbagai cobaan, cobalah untuk merasa bahagia meskipun dengan hal yang kecil. Sempatkanlah senyum setiap pagi walaupun cobaan dalam hidup kita begitu berat. Percayalah kebahagiaan akan menyertai hati dan hari-hari kita...

Saudaraku, Sesungguhnya kebahagiaan itu akan dapat kita rasakan ketika hati kita berlapang, kita ridha atas segala yang kita peroleh, bahkan cobaan seberat apapun. Umar bin Khaththab, semoga Allah Azza wa Jalla meridhainya, berkata,

إِنَّ الْخَيْرَ كُلَّهُ فِي الرِّضَا، فَإِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَرْضَى وَإِلاَّ فَاصْبِرْ

"Sesungguhnya kebaikan seluruhnya ada pada ridha, maka jika kamu mampu untuk ridha maka lakukanlah, namun jika kamu tidak mampu untuk itu, maka bersabarlah!" (Tadzkirah al-Muttaqin, 1/79)

Saudaraku, Apa tandanya bahwa kita telah ridha? Muhammad al-Mukhtar asy-Syinqithiy mengatakan, “Ridha memiliki indikasi, antara lain: ucapan yang keluar dari lisan adalah baik, dan hatinya berhusnuzhan kepada Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itu, para ulama mengatakan, “sesungguhnya seorang hamba apabila ia ridha kepada Allah Azza wa Jalla niscaya Allah mengaruniakan kepadanya keyakinan terkait dengan musibah yang menimpanya.” Abdullah bin Abbas, semoga Allah Azza wa Jalla meridhai-Nya, memberikan pendapat tentang firman-Nya,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya."(QS. At-Taghabun: 11)

Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya, yakni, Allah Azza wa Jalla akan memberikan kepadanya keyakinan, maka ia tahu bahwa apa yang akan menimpa dirinya tidak akan pernah meleset darinya, dan bahwa apa yang meleset darinya, tidak akan pernah menimpanya.

(Duruus Syaikh Muhammad al-Mukhtar asy-Syiqithy, 3/49)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa ridha atau bersabar untuk meraih ridha-Nya.

Minggu, 28 September 2025

Belajar Ikhlas

BELAJARLAH MENGIKHLASKAN APAPUN YANG HILANG DAN APAPUN YANG LUPUT KITA RAIH

Gambar 3 Waliyullah, Habib Saggaf, KH. Mahrus Ali, dan Sayyid Muhammad Al-Maliki

Sobat gudang da'i, Jangan sekalipun kita bersedih ketika kehilangan sesuatu dan jangan membanggakan diri atas sesuatu apapun yang berhasil kita raih saat ini, Allah Azza wa Jalla berfirman,

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

"Agar engkau tidak bersedih hati terhadap apa yang luput darimu dan jangan pula terlalu berbangga diri terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah Azza wa Jalla tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."(QS. Al Hadid: 23)

Dari perjalanan waktu, kita bisa belajar mana yang harus diperjuangkan, mana yang harus dipertahankan, mana yang harus dipilih dan mana yang harus diikhlaskan.

Jangan sampai kita memperjuangkan dan mempertahankan sesuatu dengan mati-matian urusan dunia, padahal akhirnya tidak bisa kita bawa sebagai bekal mati. Malah bersikap sombong dan berbangga dengan apa-apa yang sudah berhasil diraih bahkan dengan menghalalkan segala cara, korupsi, kolusi dan nepotisme dalam meraihnya. _Naudzubillah min dzalik._ Maka belajarlah untuk mengikhlaskan apapun yang hilang dan apapun yang luput kita raih.

Hakikatnya hidup berjalan di atas waktu, terkadang kita cuma perlu bersabar menjalaninya. Karena semua yang terikat dengan waktu pasti akan segera berlalu...

Jangan pernah melemah dalam beramal kebaikan, karena akan sangat bermanfaat bagi bekal kita di kehidupan akhirat kelak...

Sesungguhnya setiap amal kebaikan yang kita lakukan, sekecil apapun akan menghapuskan perbuatan-perbuatan buruk dosa yang pernah kita lakukan. Allah Azza wa Jalla berfirman,

‎إِنَّ الْحَسَنَـاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئـَاتِ 

"Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan yang buruk."(QS. Hud: 114)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

وأتبع السيئة الحسنة تمحها

"Iringilah perbuatan dosa keburukan dengan amal kebaikan niscaya akan menghapus dosa keburukan itu."

(Hasan Shahih, HR. Ahmad 21354, at-Tirmidzi: 1987)

Setiap amal kebaikan yang kita lakukan, seringan apapun akan memperberat timbangan pada _Yaumul Mizan_ (hari penimbangan) yang menentukan berat mana amal kebaikan dan keburukan, layak dimasukkan surga ataukah neraka. Allah Azza wa Jalla berfirman,

فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآياتِنَا يَظْلِمُونَ

"Maka barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, mereka itulah orang yang beruntung, dan barangsiapa ringan timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami."(QS. Al-A'raf: 8-9)

Selagi masih ada kesempatan untuk melakukan amal kebaikan maka lakukan dengan segenap kemampuan kita. Karena bagaimanapun dunia tempat beramal, dan akhirat adalah ladang perhitungannya...

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ – حديث صحيح رواه مسلم

“Orang mukmin yang tangguh lebih baik dan lebih Allah cintai dibanding mukmin yang lemah dan pada keduanya terdapat kebaikan. Upayakanlah segala yang bermanfaat bagimu, dengan tetap meminta pertolongan dari Allah dan jangan pernah merasa lemah, tidak berdaya." Bila kita ditimpa sesuatu maka ucapkanlah: “ini adalah takdir Allah dan apapun yang Allah kehendaki pastilah terjadi,” karena sejatinya ucapan “andai” hanyalah membuka pintu godaan setan."(HR. Muslim)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senatiasa belajar mengikhlasan, dan melakukan amal-amal kebaikan untuk meraih ridha-Nya.

Jumat, 19 September 2025

Pertanggung jawabkan umurmu

UMUR BUKANLAH PEMBERIAN CUMA-CUMA DARI ALLAH

Sobat gudang da'i, Kesuksesan sesungguhnya yang kita upayakan selama ini bukanlah kesuksesan di dunia semata, namun juga di akhirat. Bahkan, itulah masa depan sesungguhnya. Kesuksesan manusia benar-benar bisa dilihat ketika sudah berada di akhirat. Sekaya apapun, sepintar apapun, atau sekuasa apapun seseorang di dunia, bila kekal di neraka, apa gunanya?!

Kehidupan akhirat adalah kehidupan sebenarnya. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ ( العنكبوت: 64)

"Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda-gurau dan permainan saja. Sesungguhnya akhirat itulah kehidupan sebenarnya, jika saja mereka mengetahui." (QS. Al 'Ankabut: 64)

Sadariah setiap tarikan dan desahan nafas kita, saat kita menjalani waktu demi waktu, adalah merupakan langkah menuju kubur. Dan waktu yang kita jalani hidup di dunia ini, sebenarnya sangat singkat, karena itu sangat ruginya kita apabila kita menjalaninya dengan sesuatu yang tidak berharga.  Kita sia-sia kan waktu dan kesempatan hidup di dunia ini, dengan melakukan hal-hal yang tidak membawa kemaslahatan dunia akhirat kita.

Tiada suatu nafas yang terlepas dari kita, melainkan di situ pula ada takdir Allah Azza wa Jalla yang berlaku atas diri kita. Karena itu, hendaklah kita selalu menjaga, agar dalam setiap nafas kita, selalu kita upayakan dengan sekuat tenaga, agar kita tetap berada dalam keimanan dan ketaatan pada-Nya, serta jauh dari maksiat dan perbuatan dosa.

Banyak orang yang membuang-buang waktunya hanya untuk hal-hal yang tidak berguna. Dan kebanyakan dari mereka tidak menyadari bahwa mereka telah menyia-nyiakan waktu yang tidak akan mungkin kembali lagi.

Itulah hakikat perjalanan manusia di dunia ini. Maka sudah semestinya kita mengisi waktu dan sisa umur yang ada dengan berbekal amal kebaikan untuk menghadapi kehidupan yang panjang. Allah Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Hisablah diri kalian sebelum dihisab, perhatikanlah apa yang sudah kalian simpan dari amal shalih untuk hari kebangkitan serta yang akan dipaparkan kepada Rabb kalian.” (Taisir Al-‘Aliyil Qadir, 4/339)

Umur bukanlah pemberian cuma-cuma dari Allah Azza wa Jalla. Waktu adalah sesuatu yang terpenting untuk diperhatikan. Jika ia berlalu tak akan mungkin kembali. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap pekan, setiap bulan hingga setiap tahun dari waktu kita berlalu, berarti ajal semakin dekat. Umur merupakan nikmat yang seseorang akan ditanya tentangnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

“Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).” 

(HR. At-Tirmidzi dari jalan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Lihat ash-Shahihah, no. 946)

Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata,

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْـمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لـِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لـِمَوْتِكَ

“Apabila engkau berada di waktu sore janganlah menunggu (menunda beramal) di waktu pagi. Dan jika berada di waktu pagi, janganlah menunda (beramal) di waktu sore. Gunakanlah masa sehatmu untuk masa sakitmu dan kesempatan hidupmu untuk saat kematianmu.” (HR. al-Bukhari no. 6416)

Selagi kesempatan masih diberikan, jangan menunda-nunda lagi. Akankah seseorang menunda hingga apabila ajal menjemput, betis bertaut dengan betis, sementara lisanpun telah kaku dan tubuh tidak bisa lagi digerakkan? Dan ia pun menyesali umur yang telah dilalui tanpa bekal untuk suatu kehidupan yang panjang?!

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa menyiapkan bekal amal terbaik perjalanan menuju akhirat untuk meraih ridha-Nya.


Kamis, 11 September 2025

Atasi Gempuran Syahwat kita sendiri

JANGAN SAMPAI TERDEGRADASI OLEH GEMPURAN GODAAN SYAHWAT DUNIAWi


Sobat gudang da'i, Demonstrasi beberapa waktu yang lalu berujung kerusuhan di Nepal semakin mencekam. Pembakaran yang dilakukan massa berujung kematian isteri mantan PM Jhala Nath Khanal tewas setelah terbakar hidup-hidup ketika rumahnya dibakar warga yang marah akibat larangan 26 aplikasi media sosial, termasuk Facebook dan X-, yang merembet ke kecaman pada pemerintah yang tidak mampu memberikan pilihan terbaik malah korup.

Saudaraku,Menjadi yang terbaik itu seringkali terlihat sulit, karena kita kerap terjebak memikirkan apa yang belum mampu kita lakukan. Jebakan yang menghadirkan keraguan sampai takut melangkah untuk menjadi berbeda dengan yang lain dan menang. Menjadilah yang terbaik di antara yang terbanyak, karena yang terbanyak belum tentu terbaik. Menjadi diri sendiri seutuhnya dan memberikan yang terbaik untuk yang lain adalah sebaik-baiknya manusia. Manusia yang paling banyak menebar kebermanfaatan bagi manusia lainnya,

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

"Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." 

(HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Awsath No. 5787. Al Qudha’i, Musnad Syihab No. 129. Dihasankan Syaikh Al Albani. Lihat Shahihul Jami’ No. 6662)

Berikanlah kebaikan itu sesuai dengan kemampuan yang kita miliki tanpa harus menunda-nunda, karena yang terbaik adalah yang bisa kita berikan saat ini juga. Menjadikan yang sedikit lebih baik daripada menunda-nunda kebaikan yang besar... 

Menjadi manusia yang terbaik adalah yang paling bagus akhlaknya,

    إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا

"Sesungguhnya  yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya." 

(HR. Bukhari No. 3559, dari Ibnu Umar, Muslim No. 2321, dari Ibnu Amr. Ini lafaz Bukhari) 

Maka jagalah senantiasa akhlak kita dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai akhlak kita terdegradasi oleh gempuran godaan syahwat duniawi.

Sobat,Memang untuk menjadi yang terbaik, jalan apapun bisa ditempuh. Entah itu jalan yang benar ataupun jalan yang menyesatkan. Mulai dari yang jujur seperti berusaha meningkatkan kualitas diri tanpa kelicikan, keculasan dan kecurangan. Kita lihat dari sisi positifnya, menjadi yang terbaik itu perlu usaha, perjuangan, pengorbanan dan yang utama ridha Allah Azza wa Jalla. Ada yang mudah didapat hanya dengan sedikit usaha ada yang sulit didapat dan menuntut usaha yang keras. Jika didapat melalui cara-cara salah, licik, culas, curang, apa lagi menghalalkan segala cara, tidak hanya menjadikan itu sebagai perbuatan dosa, tapi jika suatu ketika terbongkar akan mencoreng kehormatan sendiri. Terkadang hukum masyarakat itu lebih kejam dari hukum tertulis. sedikit saja tercoreng hitam di wajah, _image_ seseorang akan luntur. Terlebih jika ia menjadi seorang pemimpin tidak amanah dan justru khianat, tidak lagi ada yang akan percaya lagi.

Sekalipun tidak terbongkar kelicikan, keculasan dan kecurangannya di dunia saat ini, ingatlah bahwa hukum akhirat menanti.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda:

« لاَ يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلاَ يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ

"Tidaklah lurus keimanan seorang hamba sehingga lurus hatinya dan tidaklah lurus hatinya sehingga lurus lisannya."(HR. Ahmad)

Saudaraku,Kita harus berihtiar untuk senantiasa mengikuti kebenaran, menjauhkan diri dari para kaum pendusta kebenaran dalam situasi apapun dan dalam kondisi bagaimanapun.

▫️وقال ابن المعتز 

" اجتنِبْ مصاحبة الكذاب ، فإن اضطررت إليه فلا تصدّقه ، ولا تُعلِمه أنك تكذبه ، فينتقل عن وده ، ولا ينتقل عن طالمعت

 زهر الآداب: [٣٨٧/١]

▪️قال الحسن بن سهل

 " الكذاب لِصّ ؛ لأن اللص يسرقُ مالك ، والكذاب يسرقُ عقلك ؛ ولا تأمن مَنْ كذب لك ، أنْ يَكذِب عليك ، ومن اغتاب غيرَك عندك ، فلا تأمَنْ أن يغتابَك عند غيرك “. انتهى

 زهر الآداب: [٣٨٦/١]

Berkata Ibnul Mu'taz:

"Jauhkan diri dari berteman dengan pendusta, dan jika engkau sangat butuh kepadanya maka jangan engkau mempercayainya, dan jangan engkau tunjukkan bahwa dirimu mendustakannya, sehingga akan berpindah menjadi mencintainya, dan tidak akan lepas dari tabiatnya."(Zahrul Adab, 1/387)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa tidak terlalu membebani diri dalam melakukan amal terbaik, tapi menjadi yang terbaik di antara yang terbanyak dengan menebar kebermanfaatan kepada yang lain untuk meraih ridha-Nya.

Rabu, 27 Agustus 2025

Aktualisasi Amalan hati melalui lesan

MEMPERBANYAK AMALAN HATI,MENGAKTUALISASIKANNYA DALAM LISAN DAN PERBUATAN


Sobat gudang da'i,Keberadaan kita di dunia ini hanyalah sementara. Umur dunia ini sangatlah terbatas. Kehidupan di dunia ini hanyalah fana. Sementara waktu terus berjalan tanpa dapat dihentikan, dan umur kita hanyalah terbatas. Kita diam, waktu tidak diam. Ia akan terus berjalan. Kita bergerak, waktu pun juga akan bergerak. Lantas, apa yang seharusnya kita lakukan? 

Kita hanya memerlukan ridha Allah Azza wa Jalla. Visi kita selama di dunia ini adalah meraih ridha Allah Azza wa Jalla. Jika Allah Azza wa Jalla telah ridha dengan setiap detik waktu yang kita lalui di dunia ini, insyaAllah kebahagiaan akan menyelimuti diri kita. Allah Azza wa Jalla berfirman,

اَفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَ اللّٰهِ كَمَنْۢ بَاۤءَ بِسَخَطٍ مِّنَ اللّٰهِ وَمَأْوٰىهُ جَهَنَّمُ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ

“Maka adakah orang yang mengikuti keridaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan dari Allah dan tempatnya di neraka Jahanam? Itulah seburuk-buruk tempat kembali.” 

(QS. Ali ‘Imran: 162)

Masalah selanjutnya adalah, bagaimana cara meraih ridha Allah Azza wa Jalla tersebut? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa ridha Allah Azza wa Jalla dapat diraih dengan memperbanyak amalan hati yang selanjutnya mengaktualisasikannya dalam amalan lisan dan perbuatan.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا                                             

“Sesungguhnya Allah sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan _tahmid_ (Alhamdulillah) sesudah makan dan minum.” (HR. Muslim)

Selain dengan berkata yang baik, cara meraih ridha Allah Azza wa Jalla berikutnya adalah dengan berbuat baik kepada orang tua. _Birrul walidain._

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa bagi anak, ridha Allah Azza wa Jalla tergantung kepada ridha orang tua. Dari sahabat Abdullah bin Amru radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, murka Allah tergantung pada murka orang tua.” 

(HR. At-Tirmizi No. 1899. hadits ini derajatnya hasan)

Saudaraku,Barangsiapa yang mentaati Allah Azza wa Jalla niscaya mendapatkan balasan yang sempura berupa kebaikan-kebaikan, dan barangsiapa yang memaksiati (yakni tidak taat kepada Allah) niscaya mendapatkan azab yang keras. Allah Azza wa Jalla adalah dzat yang Maha Adil, semua ketetapan-Nya berlandaskan pada keadilan-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman,

ولا تستوي الحسنة ولا السئة

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan."(QS. Al-Fusshilat: 34)

Saudaraku, Allah Azza wa Jalla berfirman,

واتقوا يوما ترجعون فيه الي الله , ثم توفي كل نفس ما كسبت وهم لا يظلمون

"Dan takutlah pada hari ketika kamu semua dikembalikan kepada Allah Azza wa Jalla, kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak didzalimi."

(QS. Al-Baqarah: 281)

Saudaraku,Allah Azza wa berfirman,

فمن يعمل مثفال ذرة خيرا يراه , ومن يعمل مثقال ذرة شرا يراه 

"Maka barangsiapa yang beramal kebaikan seberat _dzarrah_ pun, niscaya dia akan melihat balasannya, Dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan seberat _dzarrah_ pun, niscaya dia akan melihat balasannya."

(QS. Al-Zalzalah: 7-8)

Allah Azza wa Jalla berfirman,

إنا هديناه السبيل إما شاكرا وإما كفورأ

"Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir."(QS. Al-Insan: 3)

Saudaraku,Surga adalah tempat yang penuh dengan kebahagian, yang Allah Azza wa Jalla persiapkan untuk hamba-Nya yang beriman lagi bertakwa, berupaya keras meniti tangga menuju ridha-Nya. Di dalamnya terdapat kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbayangkan oleh hati manusia. Neraka adalah tempat azab yang Allah Azza wa Jalla persiapkan untuk para hamba-Nya yang ingkar lagi zalim, di dalamnya penuh dengan berbagai siksaan yang tidak terbayangkan oleh hati manusia. Para penghuni surga dan neraka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa memperbanyak amalan hati, mengaktualisasikannya dalam amalan lisan dan perbuatan untuk meniti tangga menuju ridha-Nya.

Kamis, 21 Agustus 2025

Korupsi ternyata berawal dari

KORUPSI BERAWAL DARI SEBUAH KETIDAK-JUJURAN


Sahabat da'i, KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) telah melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer terkait dengan kasus pemerasan terhadap perusahaan dalam pengurusan sertifikat K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja). Hal ini sangat memalukan sekaligus memilukan terjadi di saat masyarakat sedang mengalami kesulitan ekonomi.

Sahabat da'i, Korupsi sesungguhnya berawal dari ketidakjujuran yang terus dibiarkan. Saat ini, betapa mahalnya harga sebuah kejujuran. Mengapa demikian? Kita semua tahu betapa sulitnya sekarang ini menemukan kejujuran itu. Berbuat dan berkata dusta terkesan menjadi suatu hal yang lumrah. Kedustaan seakan diumbar tanpa memiliki rasa bersalah dan takut akan dosa.

Individu, masyarakat dan bangsa yang sudah tidak mengutamakan kejujuran pasti tega melakukan perbuatan dusta serta menutupi kebenaran, sehingga pada gilirannya kehancuran akan mudah menghampirinya.

Kata jujur dalam Bahasa Arab sepadan dengan kata _as-shidqu_ yang artinya benar atau nyata. Lawan katanya adalah _al-kidzbu_ yang artinya dusta atau bohong. Jadi, jujur adalah perilaku mengungkapkan kebenaran sesuai kenyataan dan menghindari perilaku kebohongan.

Sifat jujur merupakan salah satu dari empat sifat yang dimiliki  Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu _amanah_ (terpercaya), _tabligh_ (menyampaikan berita), dan _fathonah_ (cerdas). Saking pentingnya kejujuran dalam Islam, Al-Qur'an sampai menyebut kata _as-shidqu_ sebanyak 153 kali dalam ayat yang berbeda.

Sahabat da'i, Sahabat Nabi sekaligus khalifah pertama dalam Islam, Abu Bakar, sampai mendapatkan gelar _as-shiddiq_ karena selalu jujur dan mempunyai keberanian serta istiqamah dalam menampakan sikap jujur. Allah Azza wa Jalla memerintahkan untuk kita senantiasa bersikap dan berucap jujur,

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصّٰدِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At Taubah: 119)

Sahabat da'i, Sikap jujur akan melahirkan ketenangan batin di dunia dan mendapatkan kebahagian di akhirat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607)

Dalam hadist tersebut dijelaskan bahwa, kejujuran akan membawa kita pada kebaikan dan kebaikan akan di balas dengan surga. Maka kita dianjurkan untuk  selalu senantiasa berlaku jujur agar selalu mendapatkan kebaikan-kebaikan di dunia dan akhirat. Berbeda jika kita selalu berdusta atau berbohong. Karena itu akan membawa pada kejahatan, dan kejahatan akan menghantarkannya kepada neraka.

Dalam hadits riwayat Al-Hakim disebutkan, di antara doa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah berlindung dari sikap tidak jujur (kemunafikan),

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْكُفْرِ ، وَالْفُسُوقِ ، وَالشِّقَاقِ ، وَالنِّفَاقِ ، وَالسُّمْعَةِ ، وَالرِّيَاءِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekufuran, kefasikan, kedurhakaan, kemunafikan, sum’ah, dan riya.”

Sahabat da'i,Kejujuran tidak serta merta didapatkan, melainkan perlu proses penempaan semenjak dini agar menjadi pribadi yang jujur. Pendidikan yang didapatkan baik itu dilingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat sangat memberikan andil yang cukup besar pada perkembangan sifat jujur dalam diri seseorang. Sehingga persentase kejujuran yang dimiliki setiap orang juga berbeda. Lagi dan lagi semua itu tak lepas dari apa yang akan individu itu pilih.

Kejujuran memang sulit diciptakan. Namun bukan berarti tidak bisa. Sebab itu kejujuran mahal sekali harganya. Harga sebuah kejujuran bukanlah dalam bentuk materi, namun martabat diri. Ketika seorang individu memilih YA atau TIDAK maka martabat dirinya juga dipertaruhkan. Kembali lagi itu adalah soal pilihan, keputusan dan pertanggungjawaban.

Kejujuran memang memiliki peran penting di dalam kehidupan sebab ia menunjang dalam keberlangsungan dan tatanan kehidupan. Andaikata jabatan penting diisi oleh orang-orang yang tidak jujur maka bisa dipastikan keberlangsungan negara ini akan berada diambang kehancuran.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa berlaku jujur kapan pun dan di mana pun untuk meraih ridha-Nya.

Rabu, 13 Agustus 2025

Kunci kesempurnaan

MENYADARI KETIDAKSEMPURNAAN MENJADIKAN MANUSIA SEMPURNA


Sahabat gudang da'i, Berusaha keras untuk mencari kesempurnaan hanya akan membuat hati menjadi tidak pernah tenang. Sulit untuk bersyukur, selalu dan selalu merasa kurang. Jika sudah berhasil mencapai yang diinginkan, ia akan terus menuju hal lain agar kepuasannya terpenuhi. Padahal, kesempurnaan bukanlah jawaban jika kita ingin hidup bahagia. Lebih baik terima dan syukuri dengan besar hati semua kekurangan dan berterima kasih pada diri sendiri karena sudah kuat hingga saat ini tetap menjaga iman saat tertimpa musibah. Allah Azza wa Jalla berfirman,

مَاۤ أَصَابَ مِن مُّصِیبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن یُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ یَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَیۡءٍ عَلِیمࣱ

“Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS At-Taghabun:11)

Sebenarnya, sempurna dan ketidaksempurnaan hanyalah ilusi yang dibuat berdasarkan kriteria sendiri. Sehingga rasa terima kasih pada diri dan senantiasa bersyukurlah yang akan membuat hati tenang. Maka dari itu, terima kekurangan diri dan lengkapi dengan kelebihan yang kita miliki.

Saudaraku, Terkadang kita lupa dan khilaf bahwa terlalu mengejar kesempurnaan hanya membuat kita menjauh dari kesempurnaan itu sendiri. Seringkali manusia terobsesi dengan kesempurnaan. Padahal ketidaksempurnaan adalah guru sekaligus sahabat yang baik. Justru dengan ketidaksempurnaan kita bisa menumbuhkan kesadaran bahwa kita membutuhkan orang lain untuk saling melengkapi dan menyempurnakan sehingga menghargai mereka yang berada di sekitar kita.

Saudaraku, Dengan ketidaksempurnaan yang kita miliki justru kita sempurna menjadi manusia. Manusia yang utuh, sempurna dan paripurna.

Terlebih jika untuk mendapatkan kesempurnaan itu, ada banyak hal berharga yang harus kita korbankan. Teman, keluarga, pencapaian kita sebelumnya, dan kepercayaan orang pada diri kita. Menjadi sempurna itu baik, tetapi lebih sempurna untuk terus menjadi manusia yang lebih baik lagi, dari hari demi hari. Marilah kita menjadi manusia yang sempurna dengan menyadari ketidaksempurnaan kita...

Saudaraku, Menyadari bahwa hidup kita tidaklah sempurna mengajarkan kita untuk berproses lebih baik. Sedang terlalu mengejar kesempurnaan akan mengurangi syukur atas nilai kita sebagai manusia yang memang tak akan pernah bisa merasa sempurna.

Saudaraku, Allah Azza wa Jalla berfirman,

ثُمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُّوحِهِۦ  ۖ  وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصٰرَ وَالْأَفْئِدَةَ  ۚ  قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ

"Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan roh ciptaan-Nya ke dalam tubuhnya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati bagimu, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur."(QS. As-Sajdah: 9)

Saudaraku, Allah Azza wa Jalla yang Maha Rahman, mengulang-ulang kalimat mulia ini hampir 31 kali dalam Surat Ar-Rahman, tidak kah kita merasa diingatkan dengan itu, artinya dengan segala apapun yang terjadi wajibnya untuk menghindari kufur nikmat. Allah Azza Wa Jalla berfirman,

فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"(QS. Ar-Rahman : 77)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan kita betapa penting dan wajibnya mensyukuri nikmat itu,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang”. (HR Bukhari, No. 5933)

Saudaraku, Dalam kondisi diberikan kesehatan dan waktu luang ternyata masih saja kita senantiasa mengeluh. Bahkan lebih banyak mengeluhnya daripada bersyukurnya. Bukti nyata tidak bersyukur dengan kesehatan dan waktu luang adalah tidak memanfaatkan kedua-duanya untuk istiqamah dan qana'ah melakukan amal kebaikan dengan sebaik-baiknya. Ketidaksempurnaan pada diri kita adalah bentuk ujian dari Allah Azza wa Jalla, apakah kita makin dekat dengan-Nya, apakah kualitas dan kuantitas amal ibadah kita makin meningkat, apakah keimanan dan ketakwaan kita semakin baik.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa bersyukur atas ketidaksempurnaan yang kita miliki untuk meraih ridha-Nya.

Sabtu, 02 Agustus 2025

Jadilah Hamba Yang Merdeka

MENJADI HAMBA YANG MERDEKA

Sahabat gudang da'i, Sesungguhnya fitrah manusia yang terlahir dari kandungan ibunya ke dunia ini adalah makhluk merdeka. Manusia diciptakan Allah Azza wa Jalla dengan fitrahnya yang bersih, yaitu berakidah dan bertauhid dalam arti kata manusia awal penciptaannya merupakan makhluk merdeka.

Istilah kemerdekaan dalam bahasa Arab disebut _al-Istiqlal._ Hari Kemerdekaan disebut _Id al-Istiqlal._ Hal ini merupakan bentuk penafsiran dari: 

التحرر والخلاص من القيد والسيطرة الاجنبية

_al-Taharrur wa al-Khalash min al-Qayd wa al-Saytharah al-Ajnabiyyah_ artinya bebas dan lepas dari segala bentuk ikatan dan penguasaan pihak lain. Dalam istilah lain disebutkan

القدرة على تنفيذ مع عدم القسر والعنف من الخارج

artinya kemampuan mengaktualisasikan diri tanpa adanya segala bentuk pemaksaan dan kekerasan dari luar dirinya.

Dengan kata lain kemerdekaan adalah bebas dari segala bentuk penindasan bangsa lain. Kata lain untuk makna ini adalah _Al-Hurriyyah._ Kata ini biasa diterjemahkan sebagai kebebasan. Dari kata ini terbentuk kata _al-Tahrir_ yang berarti pembebasan. Orang yang bebas/merdeka disebut _al-hurr_ lawan dari _al-‘abd_ (budak). Penggunaan kata kebebasan dalam konteks kaum Muslimin hari ini tampaknya kurang menyenangkan. Sebagian mereka memandangnya dengan sinis. Ini boleh jadi karena kebebasan seolah-olah menjadi milik khas Barat. Padahal al-Qur‘an selalu menyebutkan kata ini, dan bukan kata _al-Istiqlal.

Sahabat gudang da'i, Dalam teks-teks klasik _al-Hurriyyah;_ kebebasan amatlah populer dan terpuji. Akan tetapi makna-makna sebagaimana disebutkan di atas masih amatlah sederhana dan formalistik, masih semi merdeka ( _Syibh al-Hurriyyah/Istiqlal_). Kemerdekaan yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 barulah gerbang dan pintu yang terbuka.

Kemerdekaan atau Kebebasan secara maknawi sejatinya adalah situasi batin yang terlepas dari segala rasa yang menghimpit, yang menekan dan yang menderitakan jiwa, pikiran dan gerak manusia baik yang datang dari dalam diri sendiri maupun dari luar. Ada juga yang berpendapat bahwasannya Kemerdekaan adalah suasana hati yang damai, yang tenang terbukanya kehendak-kehendak dan harapan-harapan yang manis manusia.

Sahabat gudang da'i, Hakikat kemerdekaan merupakan merdeka dari menjadi hamba, dan budak hawa nafsu ketamakan, yakni budak dunia dan budak harta. Kalau kita masih diperbudak dunia dan harta maka sejatinya kita belum merdeka.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ، وَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ

"Celaka hamba budak dinar, Celaka hamba budak dirham." (HR. Al-Bukhari)

Sahabat gudang da'i, Dikisahkan bahwa seseorang pernah meminta nasehat kepada imam Syafi’i. Imam Syafi’i menjawab,

إن الله خلقك حرًّا؛ فكن كما خلقك!

“Sesungguhnya Allah telah menciptakanmu sebagai orang merdeka, maka jadilah sebagaimana Dia telah menciptakanmu.”(Manaqib As Syafi’i karya Imam Al Baihaqi: 2/197)

Kemerdekaan yang dimaksud oleh imam Syafi’i di atas tentunya bukan kemerdekaan dalam makna yang difahami kebanyakan orang, yaitu kebebasan tanpa batas serta jauh dari aturan-aturan syariat. Kemerdekaan yang di maksud adalah kemerdekaan dari penjajahan hawa nafsu, belenggu sifat-sifat syaitaniyah dan penyembahan serta ketundukan kepada selain Allah Azza wa Jalla. Hamba yang merdeka adalah hamba yang hanya menghadapkan wajahnya kepada Allah Azza wa Jalla semata. Kemerdekaan inilah yang akan membawa jiwa dan raganya menuju makna kemerdekaan yang digariskan Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya,

“إياك نعبد و إياك نستعين”

“Hanya kepada-Mu Kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Hanya akan mengabdi kepada Allah Azza wa Jalla bukan kepada selain-Nya selamanya. Hingga datang sesuatu yang diyakini,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

"Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian).” (QS. Al Hijr: 99)

Oleh karena itu, sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang sedang merayakan Hari Kemerdekaannya, marilah kita memahami hakikat kemerdekaan yang sesungguhnya. Jangan sampai terjebak kepada kemerdekaan yang hanya semu atau kamuflase belaka.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa menjadi hamba-Nya yang merdeka dari belenggu sifat-sifat syaitaniyah untuk meraih ridhaNya.

Jangan lupa berkunjung ke gudang arab

Minggu, 20 Juli 2025

Tawajjuh kepada Allah pengingat hati yang lupa

SALING MENGINGATKAN DAN MENGUATKAN AGAR BERTAWAJUH KEPADA ALLAH

Sobat gudang da'i, Manusia dengan berbagai kekhilafan, kelalaian dan sifat kekurangannya amatlah mudah melupakan Allah Azza wa Jalla dalam hitungan sepersekian detik. Ini menjadi alasan yang sangat penting untuk kita saling mengingatkan dan menguatkan bahwa kita harus memiliki sifat selalu takut kepada Allah Yang Maha Melihat, seperti CCTV yang terus mengawasi, Allah Azza wa Jalla mengawasi kita setiap saat, di mana saja tanpa ada lengah dan istirahat sedikitpun. Allah Azza wa Jalla telah mengutus para malaikat untuk mencatat semua perbuatan dan tingkah laku kita. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَاِنَّ عَلَيْكُمْ لَحٰفِظِيْنَۙ

"Dan sesungguhnya bagi kamu ada malaikat-malaikat yang mengawasi pekerjaanmu."

كِرَامًا كَاتِبِيْنَۙ

"Yang mulia di sisi Allah dan yang mencatat amal perbuatan"

يَعْلَمُوْنَ مَا تَفْعَلُوْنَ

"Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan."(QS. Al Infitar: 10 -12)

Saudaraku, Muraqabah adalah salah satu sifat yang penting bagi setiap Muslim. Di dalam Al Qur'an, _muraqabah_ memiliki arti, setiap pribadi Muslim merasa takut kepada Allah Azza wa Jalla dalam semua perbuatan, gerakan, tingkah laku, dan bisikan hatinya pada setiap waktu. Orang yang memiliki jiwa sifat _muraqabah_ bisa melakukan penyeleksian mana perbuatan yang termasuk perintah Allah Azza wa Jalla dan mana yang dilarang oleh Allah Azza wa Jalla.

Saudaraku, Allah Azza wa Jalla mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan di dalam hati. Allah Azza wa Jalla berfirman,

اَلْيَوْمَ تُجْزٰى كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ ۗ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ ۗاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ

"Pada hari ini setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sungguh, Allah sangat cepat 

perhitungan-Nya." (QS. Ghafir: 17)

Allah Azza wa Jalla berfirman,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

"Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."(QS. Al Hadid: 4)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa apabila dalam _nafs_ kita ada iman maka kita akan meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla memiliki sifat Maha Mengetahui diri kita, Maha Melihat, dan Maha Mengawasi.

Saudaraku, Sikap muraqabah akan menghadirkan kesadaran penuh pada diri dan jiwa seseorang bahwa ia selalu diawasi dan dilihat oleh Allah Azza wa Jalla di setiap waktu dan dalam setiap kondisi apapun. Bagi para sufi, muraqabah adalah ber tawajuh kepada Allah Azza wa Jalla dengan sepenuh hati, melalui pemutusan hubungan dengan segala yang selain Allah Azza wa Jalla; menjalani hidup dengan mengekang nafsu dari hal-hal terlarang; dan mengatur kehidupan di bawah perintah Allah Azza wa Jalla dengan penuh keimanan bahwa pengetahuan Allah Azza wa Jalla selalu meliputi segala sesuatu.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla untuk meraih ridhaNYA

Selasa, 15 Juli 2025

Melawan Kebodohan

Lawan Kebodohan: Mengapa Ilmu Adalah Perisai Terkuat Kita

Sobat gudang da'i, Pernahkah terlintas di benak kita, seberapa sering kita mengikuti sesuatu tanpa dasar ilmu yang kuat? Di era informasi yang membanjiri ini, sangat mudah terseret arus dan terjebak dalam opini tanpa fakta. Namun, Allah ﷺ telah mengingatkan kita dengan tegas:

"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawaban." (QS. Al Israa: 36)

Ayat ini bukan sekadar larangan, melainkan sebuah peringatan serius. Setiap informasi yang kita serap, setiap pandangan yang kita yakini, dan setiap langkah yang kita ambil akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Maka, bagaimana mungkin kita berani melangkah tanpa bekal ilmu yang memadai?

Memohon Ilmu yang Bermanfaat: Perisai dari Kebodohan

Kita harus senantiasa berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat. Rasulullah ﷺ mengajarkan kita doa yang powerful:

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu', doa yang tidak didengar, jiwa yang tidak pernah tenang dan ilmu yang tidak bermanfaat. Aku berlindung kepada-Mu dari empat perkara ini." (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, an-Nasaaie)

Doa ini adalah pengingat bahwa ilmu sejati bukan hanya tentang kuantitas, tetapi tentang kualitas dan kebermanfaatannya. Ilmu yang tidak mengantarkan kita pada ketenangan hati, kekhusyukan ibadah, dan keberkahan hidup, sejatinya adalah sebuah kerugian.

Menuntut Ilmu: Sebuah Kewajiban, Bukan Pilihan!

Jangan pernah remehkan pentingnya mencari ilmu. Dalam Islam, menuntut ilmu bukanlah pilihan, melainkan kewajiban bagi setiap Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Menuntut ilmu itu adalah kewajiban setiap muslim." (HR. Ibnu Majah dan lain-lain)

Ini adalah perintah yang jelas dan mutlak. Di zaman ini, akses terhadap ilmu begitu mudah. Maka, tidak ada alasan bagi kita untuk berdiam diri dalam kebodohan.

Jahil Basith vs. Jahil Murakkab: Kenali Musuh dalam Diri

Meski era Jahiliyah (kebodohan) telah berlalu dengan diutusnya Rasulullah ﷺ, kejahilan itu sendiri tetap ada dan akan terus ada hingga hari kiamat. Para ulama membagi kejahilan menjadi dua jenis:

 * Jahil Basith (Kebodohan Sederhana): Ini adalah kebodohan yang disadari pelakunya. Orang yang jahil basith tahu bahwa ia tidak tahu, sehingga ia termotivasi untuk belajar dan terbuka terhadap nasihat ilmu. Inilah posisi yang patut disyukuri, karena ada harapan untuk berkembang.

 * Jahil Murakkab (Kebodohan Berlapis): Ini jauh lebih berbahaya! Orang yang jahil murakkab tidak menyadari kebodohannya, bahkan merasa paling tahu dan berilmu. Ketika disodori ilmu, ia akan menolaknya mentah-mentah, menganggap ilmunya sendiri sebagai kebenaran, dan menganggap ilmu yang benar sebagai kebodohan.

Maka, kejahilan, terutama jahil murakkab, adalah musuh utama yang harus kita perangi dari dalam diri kita. Satu-satunya senjata melawan musuh ini adalah ilmu, yang didapat melalui proses belajar yang tak pernah berhenti.

Bahaya Beramal Tanpa Ilmu: Kerusakan yang Tak Terukur

Pelaku jahil murakkab sangat rawan mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Mereka bisa menjauhkan orang dari kebenaran, menciptakan amalan-amalan baru yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah ﷺ, bahkan terjerumus pada kesyirikan, kefasikan, dan kekufuran.

Umar bin Abdil Aziz pernah berkata:

"Barangsiapa yang beramal tanpa dasar ilmu maka kerusakan yang diperbuatnya lebih banyak dari apa yang ingin dia perbaiki." (Az-Zuhd Imam Ahmad)

Ini adalah peringatan keras, terutama bagi mereka yang memegang amanah besar. Niat baik saja tidak cukup. Tanpa ilmu, niat baik bisa berubah menjadi bencana. Bukankah syariat Islam hadir untuk membawa kemaslahatan dan menolak kemudaratan? Tanpa ilmu, kita bisa saja tanpa sadar justru melakukan yang sebaliknya.

Perangi Kebodohan, Sambut Cahaya Ilmu!

Mari kita bersama-sama memerangi kejahilan dan pembodohan dengan sungguh-sungguh. Perbanyak membaca—bukan hanya Al-Qur'an dan hadits, tetapi juga ayat-ayat kauniyah (kejadian di alam semesta) yang penuh hikmah. Ilmu adalah lentera yang akan menuntun kita menuju keselamatan.

Orang yang beramal tanpa ilmu ibarat pengembara tanpa peta. Ia akan tersesat, dan bahkan bisa menyesatkan orang lain yang mengikutinya. Jangan biarkan diri kita atau orang-orang di sekitar kita terjebak dalam kegelapan kebodohan.

Semoga Allah ﷺ senantiasa mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, agar kita tetap istiqamah dalam menuntut ilmu demi meraih ridha-Nya.


Sabtu, 12 Juli 2025

Kepastian yang tidak pasti

SUATU KEPASTIAN DALAM HIDUP ADALAH SEBUAH KETIDAKPASTIAN


Sahabat gudang da'i, Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 

"إذا رأيت الله يعطي العبد من الدنيا على معاصيه ما يحب، فإنما هو استدراج

"Jika engkau melihat Allah memberikan nikmat duniawi kepada seorang hamba apa yang dia sukai dalam keadaan dia bermaksiat kepada-Nya, maka tiada lain itu adalah istidraj."

(HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami' 561)

Sahabat gudang da'i, Berhati-hatilah terhadap segala nikmat duniawi yang sudah  didapatkan, harta benda berlimpah dan jabatan kekuasaan besar yang begitu disukainya, namun dalam keadaan bermaksiat kepada-Nya dan dzalim terhadap para hamba-Nya. Itulah _istidraj_, begitu terbuai dengan berbagai kenikmatan sesaat, namun setelah itu akan mendapatkan balasan azab begitu pedih dari Allah Azza wa Jalla.

Sahabat gudang da'i, Hidup itu akan selalu berubah dan penuh dengan suatu ketidakpastian, demikian pula antara suatu kepastian dalam hidup hanyalah sebuah ketidakpastian. Sesuatu yang pasti adalah ketidakpastian. Tidak ada sesuatu pun yang pasti selain ketidakpastian itu. Lebih menarik lagi bila kita mengkaitkan dengan kehidupan sehari-hari, misalnya: sesuatu yang pasti akan hari esok adalah bahwa hari esok itu tidak pasti. Dengan ketidakpastian ini kita menjadi ingin mempersiapkan diri dengan yang terbaik menghadapinya. Allah Azza wa Jalla memberikan peringatan kepada kita agar jangan mengikuti langkah-langkah syaitan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nuur: 21)

Sahabat gudang da'i, Hidup ini memang penuh misteri dan tidak ada yang pasti. Kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi pada esok hari dengan pasti. Bahkan bisa jadi dalam hitungan detikpun segalanya bisa berubah 180 derajat. Banyak peramal yang berusaha memberikan kepastian tentang hidup ini, tapi nyata mereka sendiri tidak bisa memberikan kepastian hidupnya sendiri. Karena itu hindarilah hidup dalam kesombongan pada saat kita memiliki kelebihan dan berlebihan. Kekayaan dan kekuasaan tidak ada yang abadi, hanyalah sementara dan akan habis pada masanya...


Sahabat gudang da'i, Banyak sudah yang terjadi dalam kehidupan ini, di mana orang mulia dalam sekejap menjadi hina dan orang hina drastis berubah jadi orang mulia. Semua bisa terjadi tanpa dapat kita duga. Banyak juga yang terjadi di sekitar kita, ketika orang yang terlihat sehat dan tidak ada masalah dalam penyakit tahu-tahu mati karena hanya sakit perut. Sebaliknya ada yang sakit-sakitan sampai hampir mati, saat bertemu lagi sudah sehat dan terlihat segar-bugar. Banyak peristiwa dalam hidup ini seringkali tidak masuk logika dan tidak pasti. Tapi nyata terjadi di depan kita. Seringkali tidak sesuai dengan harapan dan keinginan kita, tapi tetap terjadi dan harus kita terima juga...


Sahabat gudang da'i, Hidup memang selalu memberi ketidakpastian kepada kita. Namun kita harus berani hidup dalam hukum kepastian tentang kebajikan dan kejahatan. Bahwa kebaikan akan senantiasa berbalas kebaikan dan kejahatan akan senantiasa berbalas kejahatan ketika waktunya tiba. Hindarilah kesombongan dan berkeluh-kesah dalam keadaan bagaimanapun kita saat ini, serta selalu bersyukur adalah langkah yang bijak menyikapi hidup ini. Rasulullah  shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan kepada kita,

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – كُلْ, وَاشْرَبْ, وَالْبَسْ, وَتَصَدَّقْ فِي غَيْرِ سَرَفٍ, وَلَا مَخِيلَةٍ – أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ, وَأَحْمَدُ, وَعَلَّقَهُ اَلْبُخَارِيُّ

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Makan dan minumlah, berpakaianlah, juga bersedekahlah tanpa boros dan bersikap sombong.” 

(HR. Abu Daud, Ahmad, dan dikeluarkan oleh Al-Bukhari secara mu’allaq. HR. Abu Daud Ath-Thayalisi, 4:19-20; An-Nasai, 5:79; Ibnu Majah, no. 3605; Ahmad, 11:294,312. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Sahabat gudang da'i, Walaupun hidup ini tidak pasti tapi ada satu yang pasti. Kematian!  Setiap yang hidup dipastikan akan mati pada waktunya.  Untuk itu pastikanlah sebelum mati, bahwa kita bisa mati dalam keadaan husnul khatimah dan penuh kemenangan. Sukses terbesar dalam kehidupan manusia adalah ketika sudah bisa menunaikan tugasnya sesuai yang dikehendaki Allah Azza wa Jalla sebelum menemui ajalnya.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa berbuat kebaikan hingga pada akhirnya mampu meraih husnul khatimah dalam ridha-Nya.

Sabtu, 05 Juli 2025

Totalitas dalam berhijrah

HIJRAH SECARA TOTALITAS DARI KEMAKSIATAN MENUJU KEPADA KETAATAN

Sahabat gudang da'i, Hijrah satu kata yang sangat indah. Satu kalimat untuk mengungkapkan makna kembali dan perbaikan. Kembalinya seorang hamba kepada Rabb-Nya dalam ketaatan.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

الذين ء45امنوا وهاجروا وجاهدوا في سبيل الله بأموالهم وأنفسهم أعظم درجة عند الله , وأولئك هم الفائزون

“Orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. At-Taubah: 20)

Dalam Al Qur’an tidak kurang dari 31 kata yang berasal  dari kata _Hajara_ atau _Hijrah._ Dari jumlah itu tidak kurang dari 6 ayat yang menyebutkan  kata _Hajaruu_ (orang-orang yang berhijrah) bergandengan dengan kata _Aamanuu_ (orang-orang yang beriman) dan _Jahaduu_ (orang-orang yang berjihad). Ayat yang dikutip di atas adalah salah satunya. Belum lagi kata _Hajaruu_ diiringi dengan kata _Fillah_ (karena Allah) atau _Fi Sabiilillah_ (di jalan Allah). Ini berarti betapa erat kaitan hijrah dengan iman. Hijrah sama sekali berbeda dengan Migrasi, hijrah adalah terminologi khas Islam yang landasanya iman kepada Allah Azza wa Jalla. Jadi hijrah menjadi tolok ukur keimanan seseorang. Orang yang benar-benar beriman tentu tidak akan merasa berat  melakukan hijrah. Sebaliknya, orang yang tidak melakukan hijrah menunjukan lemah atau tidak sempurna imannya...

Sahabat gudang da'i, Imam Ibnu Rajab rahimahullah mendefinisikan makna hijrah yaitu,

الرجاعون إلى الله بالتوبة من المعصية إلى الطاعة

"Kembali kepada Allah dengan bertaubat dari maksiat kepada ta'at."

Mengenai firman Allah Azza wa Jalla,

ففروا إلى الله. (سورة 51 الذاريات 50)

"Dan bersegeralah lari kembali kepada Allah." (QS. Adz-Dzariyat: 50)

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya, _Risalah Tabukiyah:_ "Bahwa hijrah ada dua bentuk, hijrah badan (fisik) dan hati. Terutama hijrah hati (hijrah kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya) terkait dua hal, _min_ (dari) dan _ila_ (kepada). Konsekuensi dari hijrah kepada Allah Azza wa Jalla adalah totalitas, yakni mengalihkan semua, kecintaan, ibadah, takut, harap, tawakkal, doa, dan ketundukan dari selain Allah Azza wa Jalla kepada Allah Azza wa Jalla semata. Hijrah pada Rasul-Nya adalah, kesediaan mengikuti sunnah Rasul-Nya secara totalitas, meskipun hal ini menjadikan orang yang meniti jalan ini dianggap asing dan tidak populer.

Secara makna hijrah dapat di maknai, meninggalkan atau berubah menuju yang lebih baik, atau berpindah dari yang buruk kepada hal yang lebih baik.

Sebagaimana Allah Azza wa Jalla berfirman,

و اصبر على ما يقولون و اهجرهم هجرا جميلا. (سورة 73 المزمل 10)

"Dan bersabarlah terhadap ucapan mereka yang menyakitkan dan hindari/tinggalkan mereka dengan cara menghindar/meninggalkannya dengan baik." (QS. Al-Muzzamil: 10)

Sebagai titik awal perubahan (mendapat hidayah, baik _hidayah taufiq_ dan hidayah _bayan,_ hidayah untuk mengenal Islam, dan hidayah saat sudah di dalam Islam), tentu hal ini mengharuskan sebuah konsekuensi. Apa konsekuensi sebuah hijrah? Allah Azza wa Jalla berfirman menjelaskan,

فألذين هاجروا و أخرجوا من ديارهم واوذوا في سبيلي و قاتلوا و قتلوا لأكغرن عنهم سيئاتهم و لأدخلنهم جنات تجرى من تحتها الأنهار ثوابا من عند الله ، و الله عنده حسن الثواب. (سورة 3 ال عمران 195)

"Maka, orang-orang yang berhijrah dan di usir/di keluarkan paksa dari kampung halamannya, yang disakiti di jalanku, (sampai dalam tahapan berperang yang konsekuensinya) memerangi atau di perangi, pasti Aku hapuskan darinya kesalahan-kesalahannya, dan pasti Aku masukkan mereka ke surga yang di dalamnya ada sungai-sungai, sebagian sebuah anugerah di sisi Allah, dan Allah pada sisi-Nya ada pahala yang baik."(QS. Ali-Imran: 195)

Sahabat gudang da'i, Sebuah hijrah adalah totalitas dalam perubahan, mereka adalah orang-orang yang kembali, orang-orang yang ingin mengubur masa-masa kelam mereka, dalam kekufuran, kesyirikan, dosa, maksiat, dan berusaha untuk bersimpuh, memperbaiki diri, dan kembali kepada Rabb-Nya dengan pertaubatan yang bersungguh-sungguh.

Ingat selalu firman Allah Azza wa Jalla,

إنه من يتق و يصبر فإن الله لا يضيع اجر المحسنين

"Sesungguhnya barang siapa bertaqwa dan bersabar, maka Allah tiada akan menyiakan pahala orang yang telah bertaubat kebaikan." (QS. Yusuf: 90)

Memaknai Hijrah selain seperti apa adanya sesuai  peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, juga yang terpenting adalah memaknai, merefleksikan serta merealisasikannya  dalam laku kekinian pada semua dimensi ruang dan waktu  pada pribadi, organisasi, masyarakat  bahkan Negara.

Melawan keterbelengguan keterbelakangan, penjara irasionalitas dan kebodohan, penyanderaan kejahiliyahan, ketidak-produktivitasan mentalitas spiritual, dan  kegelapan masa depan dengan keberanian serta  pengorbanan berhijrah menuju loncatan melakukan perubahan, mengamputasi sisi kejahiliyahan yang masih melekat, melakukan percepatan spiritual dalam keseharian, dan bergerak menuju cahaya kejayaan dan keberkahan.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa berhijrah menjauhi kemaksiatan dan meningkat ketaatan untuk meraih ridha-Nya.