Rabu, 30 September 2026

Kepalsuan pasti akan terungkap

SEINDAH APAPUN MENGHIASI SEBUAH KEBATHILAN, PASTI AKAN TERSINGKAP KEPALSUANNYA


Sobat gudang da'i, G30S/PKI merupakan tragedi kelam yang menorehkan luka mendalam dalam sejarah Indonesia, di mana terjadi penculikan dan pembunuhan perwira tinggi militer oleh pasukan yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung dari Batalyon Cakra Birawa pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965. Peristiwa ini menjadi bukti nyata betapa pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, dengan _tasamuh_ (toleransi), serta musyawarah dalam menyelesaikan perbedaan. Kita harus belajar dari masa lalu agar tidak terulang kembali tragedi kelam ini di masa depan.

Pertarungan antara yang _haq_ dan yang _bathil_ berikut para pengusung dan pembela masing-masing adalah sebuah kemestian hidup. Sebab, keduanya bertolak belakang, tidak mungkin berkumpul satu sama lain melainkan saling berusaha mengenyahkan yang lain. Berpegang kepada salah satunya, mesti akan meninggalkan yang lain, dan itu kepastian. Paling tidak, akan melemahkan yang ditinggalkan atau ditolak.

Seandainya terlihat "kerukunan" antara yang _haq_ dan yang _bathil_ tanpa ada perseteruan dan pertikaian di antara para pembela dan pengusungnya, boleh jadi karena ada sebab tertentu. Di antaranya ialah karena kelemahan para pengusung dan pembela masing-masing ( _al-haq_ dan _al-bathil_) ini, atau ketidaktahuan para pengikut masing-masing tentang hakikat dari kebenaran atau kebathilan yang mereka perjuangkan, berikut konsekuensinya, sehingga melemahkan pengaruh kebathilan dan kebenaran itu pada pihak yang membela dan mengusungnya.

Walau bagaimanapun _al-haq_ ialah semua bentuk ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, sedangkan _al-bathil_ adalah semua bentuk ketaatan kepada syaitan. Oleh karena itu, keduanya tidak mungkin dapat bersatu selama-lamanya.

Betapapun banyaknya dan menariknya keadaan kebathilan, dia pasti lenyap. Itu semua adalah _sunnatullah_ yang tidak mungkin berubah. Berbagai syubhat dan kerancuan berpikir, seindah apapun menghiasi sebuah kebathilan, pasti akan tersingkap kepalsuannya.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

 وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu mencampur-adukkan kebenaran dengan kebathilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 42)

Larangan ini merupakan larangan yang besar dan serius. Hal ini karena hak menentukan halal dan haram adalah ketentuan Allah Azza wa Jalla dan hak-Nya semata-mata. Karena itu Allah Azza mengecam mereka yang mencampur-adukkan antara yang haq dan yang bathil, antara ketaatan dan kemaksiatan, antara kebenaran dan kebohongan. Sebab dengan cara-cara itulah dan tangan-tangan kotor mereka itulah menyebabkan hukum Allah Azza wa Jalla bercampur aduk antara larangan dan suruhan.

Sahabat Nabi, bernama Abdullah bin Abbas, yang sangat memahami tafsir Al-Quran, menjelaskan ayat ini dalam kalimat, ”Janganlah kalian menyembunyikan pengetahuan yang kalian miliki mengenai kebenaran Rasul-Ku dan juga apa yang dibawanya. Sedangkan kalian mendapatkannya tertulis dalam kitab-kitab yang berada di tangan kalian.

Sebab ayat-ayat Allah Azza wa Jalla jelas sangat berarti, sedangkan mereka yang mengetahui lalu menyembunyikan pengetahuan tersebut. Maka akan mengandung bahaya yang sangat besar bagi manusia, yaitu tersesatnya mereka dari petunjuk yang dapat menjerumuskan mereka ke neraka. Namun justru mereka benar-benar mengikuti kebathilan yang dikatakan kepada mereka, yang telah dicampur-adukkan dengan kebenaran.

Semoga kita dapat mengetahui dan mengikuti yang benar adalah benar, dan berlindung dari yang salah adalah salah,

اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar, dan berikanlah kami kekuatan untuk mengikutinya, serta tunjukkanlah kepada kami yang bathil itu bathil dan berikanlah kami kekuatan untuk menjauhinya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa memegang teguh kebenaran dan menjauhkan diri dari kebathilan untuk meraih ridha-Nya.

Kamis, 13 Agustus 2026

Mana yang lebih penting?

MENGHINDARI KEMUDHARATAN LEBIH DIUTAMAKAN KETIMBANG MENDATANGKAN KEMASLAHATAN


Sobat gudang da'i, Allah Azza wa Jalla sengaja menciptakan keberagaman agar manusia saling menghormati dan menghargai, dan inklusivitas menjadi keharusan. Ada beberapa prinsip yang selalu diajarkan Rasulullah  shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya untuk membangun Islam yang _rahmatan lil alamin.

Pertama, _at-tawassuth_ atau sikap di tengah-tengah, moderat, mendamaikan, mengharuskan umat Islam menjadi panutan atau ukuran penilaian atas sikap dan perbuatan.

Kedua, _at-tawazun_ atau seimbang dalam segala hal.

Ketiga _al-i'tidal_ yakni tegak lurus atau adil karena Islam datang untuk menyamakan kedudukan manusia dalam peradilan dan hukum.

Keempat, _tasamuh_ atau toleransi. Menghargai perbedaan dan menghormati orang yang memiliki prinsip hidup tidak sama. Namun, bukan berarti _tasyabbuh_ (menyerupai), mengakui atau meneguhkan keyakinan yang berbeda. Sebagaimana sabda Rasulullullah shallallahu 'alaihi wa sallam,

"Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka."

(HR. Ahmad No. 250 dan Abu Daud No.4031)

Prinsip kelima, _ta'awun_ yaitu tolong-menolong.

Keenam adalah _akhlakul karimah_ atau berakhlak yang baik dalam berinteraksi dengan orang-orang yang sejalan maupun berselisih pendapat.

Agama Islam merupakan agama damai yang memiliki karakter anti kekerasan dan anti kerusakan. Sikap anarkisme bukanlah cerminan agama Islam, karena hal itu sama saja menjatuhkan diri dalam kebinasaan. Padahal segala perbuatan yang menjatuhkan diri dalam kebinasaan itu dilarang oleh Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firman-Nya,

 وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ 

"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik".(QS. Al Baqarah: 195)

Beriman perlu nalar ilmu, sebagaimana ilmu perlu nalar iman. Jangan sekali-kali kita memisahkan keduanya. Jika itu terjadi maka akan berbuah bencana bagi agama dan masyarakat. Hal ini juga mendasarkan pada dalil _Darul mafasid muqaddamun 'ala jalbil mashalih_ (menghindari kemudharatan lebih diutamakan ketimbang mendatangkan kemaslahatan).

Semoga Allah Azza Wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita tetap istiqamah senantiasa dapat memetik hikmah dari _ayat-ayat Kauniyah-Nya_, mengindar dari menjatuhkan diri dalam kebinasaan dan senatiasa berbuat baik untuk meraih ridha-Nya.

Rabu, 08 Juli 2026

Hidup itu Sederhana

HIDUP ITU SEDERHANA, KITA SAJA YANG MEMBUATNYA RUMIT


Sobat gudang da'i, Tanyakanlah pada hati kita, apakah yang selama ini kita telah kerjakan termasuk bagian dari kebaikan ataukah bukan? Apakah termasuk bentuk ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya ataukah bukan? Atau justru perbuatan tersebut akan mendatangkan murka Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Maka tanyakanlah semua itu pada hati kita. 

Kebaikan adalah apa saja yang dapat menenangkan hati kita dan menentramkan jiwa kita, sedangkan keburukan adalah apa saja yang membuatkan hati kita ragu dan tidak tenang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dari sahabat An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu,

البر حسن الخلق , و الإثم ما حاك في نفسك و كرهت أن يطلع عليه الناس

“Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa saja yang meragukan jiwamu dan kamu tidak suka memperlihatkannya pada orang lain.” (HR. Muslim)

Dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain,

عن وابصة بن معبد رضي الله عنه قال : أتيت رسول الله صلى الله عليه و سلم , فقال: جئت تسأل عن البر؟ قلت: نعم. قال: استفت قلبك. البر مااطمأن إليه النفس واطمأن إليه القلب. والإثم ماحاك في النفس و تردد في الصدر وإن أفتاك الناس وأفتوك

Dari Wabishah bin Ma’bad radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berkata, “Kamu datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Aku menjawab, benar. Kemudian beliau bersabda, “Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.” 

(HR. Ahmad (4/227-228), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (22/147), dan Al Baihaqi dalam Dalaailun-nubuwwah (6/292)

Syaikh ‘Utsaimin menjelaskan makna hadits di atas bahwa yang dimaksud dengan _al birru_ adalah kebaikan yang banyak. Sedangkan yang dimaksud dengan akhlak yang mulia adalah seseorang senang jiwanya, lapang dadanya, tentram hatinya, dan baik pergaulannya. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kebaikan adalah akhlak yang baik.” 

Maka jika seseorang mempunyai akhlak yang baik terhadap Allah Azza wa Jalla dan hamba Allah Azza wa Jalla maka ia akan memperoleh kebaikan yang banyak, dadanya lapang terhadap Islam, hatinya menjadi tenang dengan iman, dan bergaul dengan manusia dengan akhlak yang baik.(Syarhul Arba’in An Nawawiyyah)

Adapun dosa, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa ia adalah, “Apa saja yang meragukan dalam hatimu.” Ketika itu beliau berbicara kepada An-Nawwas bin Sam’an, salah seorang sahabat yang mulia. Tidak ada sesuatu yang meragukan dan tidak menenangkan jiwanya kecuali perbuatan dosa. Oleh karena itulah, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa saja yang meragukan jiwamu dan kamu tidak suka untuk memperlihatkannya kepada orang lain.” Sementara orang-orang fasik dan durhaka, maka perbuatan dosa tidaklah membuat keraguan dalam jiwa mereka, dan mereka juga tidak membenci untuk memperlihatkan perbuatan dosanya kepada orang lain. Bahkan sebagian mereka merasa bangga dengan perbuatan dosa yang mereka lakukan. Allah Azza wa Jalla memberikannya _istijrad._ Akan tetapi, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sini berbicara tentang seseorang yang lurus hatinya. Sesungguhnya orang yang lurus hatinya, jika dia ingin melakukan keburukan maka jiwanya akan ragu dan dia benci perbuatannya diketahui orang lain. Oleh karena itu maka tolak ukur yang telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlaku untuk orang-orang yang baik dan lurus hatinya. (Syarhul Arba’in An Nawawiyyah)

Sehubungan dengan hal ini, Allah Azza wa Jalla memberi isyarat bahwa ketakwaan itu dilakukan oleh hati manusia,

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ

"Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati." (QS. Al-Hajj: 32)

Allah Azza wa Jalla berfirman,

‎فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am: 44)

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

‎إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” 

(HR. Ahmad 4: 145. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Ciri-ciri seseorang yang terkena istijrad dan menjadi budak dunia adalah keimamanan dan amal ibadahnya semakin menurun, namun kesenangan dan kekayaan makin melimpah, rasa takut kepada Allah Azza wa Jalla semakin berkurang, tidak takut berbuat dosa.

Orang itu terus saja melakukan dosa, tidak mau menerima kebenaran dan nasehat yang datang untuknya, dan Allah Azza wa Jalla pun semakin membuka kesuksesan untuknya, bahkan semakin melimpah.

Siksa dan laknat yang diturunkan Allah Azza wa Jalla untuk orang yang mendapat istidraj bisa dalam berbagai macam bentuk, bisa jadi keberkahan umurnya dicabut sehingga tidak ada ketenangan hidup, selalu dirundung ketakutan, kegelisahan dan kesedihan.

Sesungguhnya hidup kita itu sangatlah sederhana,

الحياة بسيطة حقا، ولكن نحن نجعل الأمور معقدة

"Hidup itu sederhana, kita saja yang membuatnya rumit."

Untuk menjadi lebih bijaksana terkadang kita harus melewati masa-masa kegagalan, kehilangan, dan ditinggalkan. Itu lebih baik dari pada mendapat istijrad dan menjadi budak dunia.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa tawadhu' dan semakin mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla untuk meraih ridlanya.