Minggu, 03 Mei 2026

Bahaya Salah dalam Legitimasi

LEGITIMASI KEBOHONGAN AKAN MENENGGELAMKAN DAN MEMATIKAN KEJUJURAN

Sobat gudang da'i, Dikisahkan suatu hari Abu Nawas sedang berjalan di tengah pasar. Topinya dibuka sambil berjalan. Lalu ia melihat ke dalam topinya dengan penuh bahagia dan berseri-seri yang membuat orang lain heran. Abu Nawas bercerita bahwa di dalam topinya, ia melihat surga yang dihiasi bidadari yang cantik dan menawan. Namun hanya orang yang beriman saja yang bisa melihat pemandangan itu. Orang yang ada di pasar tersebut sebagian ada yang percaya dengan Abu Nawas, tapi banyak pula yang menganggap Abu Nawas berbohong. Singkatnya, ia diadili di depan raja...

Abu Nawas pun menawari raja untuk melakukan hal yang sama dengan rakyatnya. Dan pastilah raja tidak melihat surga apalagi bidadari dalam topi Abu Nawas. Namun mereka berpikir jika ia mengatakan bahwa ia tidak melihat surga, pasti reputasinya akan rusak. Oleh karena itu, raja mengatakan bahwa ia juga menyaksikan surga dan bidadari di dalam topi Abu Nawas...

Abu Nawas tertawa sendiri sambil bergumam, “Beginilah akibatnya kalau ketakutan sudah menenggelamkan kejujuran. Kebohongan pun akan merajalela.”

Dari kisah tersebut dapat diambil _ibrah_ (pelajaran), ketika keberanian lenyap dan ketakutan telah menenggelamkan dan mematikan kejujuran, maka kebohongan akan melenggang kangkung sebagai sesuatu yang “benar”.

Kasus legitimasi kebohongan versi Abu Nawas ini, mungkin telah terjadi disekitar kita. Tentu dengan aneka versinya. Bagaimana dengan kondisi kita saat ini dan kemarin, hari ini dan esok? Marilah kita berani untuk jujur, karena kejujuran adalah kebaikan yang utama.

Jangan berharap kebaikan, jika diri kita menjauh darinya. Jika diri kita tak memulainya, kapan lagi waktunya. Allah Azza wa Jalla berfirman,

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula."

Inilah tabungan sesungguhnya. Tabungan amal kebaikan. Jika suatu saat nanti kita membutuhkannya pasti kita akan mudah mengambilnya atau Allah Azza wa Jalla yang mudah memberikannya...

Bagaimana mungkin kita akan mengambilnya jika tak pernah menyimpannya dan tak pernah menabungnya. Ingalah bahwa Allah Azza wa Jalla akan memberi jika kita memiliki. Maka milikilah kejujuran sebagai suatu kebaikan, milikilah sesuatu bekal yang cukup agar bisa membantu keperluan kita kelak di akhirat.

Dunia pasti akan sirna dan segera kita tinggalkan. Akhirat suatu hal yang pasti akan kita temui, tanpa diragukan lagi. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla menyampaikan ancaman di akhirat dan juga memotivasi untuk meraih kebaikan di negeri yang kekal abadi. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ

“Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya.” 

Di akhirat cuma ada dua kemungkinan, yaitu mendapatkan siksa yang kekal ataukah mendapatkan ampunan yang kekal dari Allah Azza wa Jalla dan meraih keridhaan-Nya.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

Disebutkan dalam sebuah hadits, dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَوْضِعُ سَوْطٍ فِى الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Satu bagian kecil nikmat di surga lebih baik dari dunia dan seisinya.”(HR. Bukhari no. 3250)

Sungguh, nikmat dunia dibanding dengan nikmat akhirat amat jauh sekali. Namun kenapa kita lebih mengharap dunia dari akhirat? Mengapa kita lebih mengharap ridha manusia daripada ridha Allah Azza wa Jalla?

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga tetap istiqamah senantiasa mengumpulkan bekal amal-amal terbaik menuju akhirat untuk meraih ridha-Nya

Jumat, 17 April 2026

Belajar dari Batu dan Air

BELAJAR MENGAMBIL HIKMAH DARI DENSITAS BATU DAN AIR

Sobat gudang da'i, Perhatikanlah batu, setiap ia disatukan, senantiasa berbentur dan saling menendang, saling menyingkirkan.

Berbeda dengan air, ketika ia disatukan, ia segera menyatu menjadi senyawa yang saling mengisi.

Apa yang membedakan antara batu dan air? Batu mempunyai "kepadatan" atau densitas yang jauh lebih tinggi dari air. Itulah sebabnya bentuknya padat dan tidak cair.  Padat dan  tidak "cair" seperti air.

Demikian juga manusia. Kebanyakan orang pintar ("berisi") akan cenderung selalu ingin berdebat, berbantahan  bahkan berkelahi ketika berkumpul, terutama karena kepalanya dibuat "membatu" oleh kepintarannya.

Berbeda dengan orang bijaksana, ia akan "selentur" air ketika berkumpul. Ia akan menyatu, berpelukan seperti air sesuai wadah "kebijaksanaan". Ia mampu meregangkan "kepadatannya" mengikuti situasi dan kondisi di mana pun dia berada...

Pada situasi yang panas dia akan "menguap" menjadi uap air, pada keadaan dingin dia pun bisa turun menjadi embun penyejuk di pagi hari dan pada keadaan dingin yang ekstrim dia mampu "membatu" menjadi es dan bertahan dalam kondisi tersebut hingga suhu kembali normal dan dia kembali ke wujudnya yang semula. Itulah "bijaksana".

Aristoteles mengatakan, _"Knowing your self is the beginning of all wisdom."

Oleh karenanya marilah bermuhasabah, instropeksilah diri kita, seberapa "cair" kah diri kita?  Seberapa bijakkah kita? Semakin bijaksana seseorang semakin dia tahu bahwa dia tidak tahu apa-apa.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

من وَطَّنَ قلبَه عند ربه سكن واستراح، ومن أرسله في الناس اضطرب واشتد به القلق

"Barangsiapa memfokuskan hatinya kepada Rabbnya maka ia akan tenang dan nyaman. Dan barangsiapa melepaskan hatinya kepada manusia maka ia akan goncang dan sangat gelisah."

Orang yang baik memberi kita kebahagiaan.

Orang yang buruk memberi kita pengalaman.

Orang yang jahat memberi kita pelajaran.

Setiap orang yang hadir dalam kisah episode kehidupan kita, bukanlah suatu kebetulan...

Mereka dihadirkan oleh Allah Azza wa Jalla untuk senantiasa memberi ujian, hikmah dan pelajaran dalam perjalanan hidup kita.

Teruslah tetap istiqamah untuk belajar memetik hikmah dan beramal shaleh dengan senantiasa  _beramar ma'ruf nahi munkar,

لا ترج فعل الصالحات الى غد لعل غدا ياءتي وانت في اللهدي

"Janganlah engkau menunda-nunda untuk segera beramal shaleh sampai besok... Mungkin besok masih ada, tapi engkau sudah tidak ada."

Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan,

 اعْلَمْ أَنَّ البَابَ الأَعْظمَ الَّذِي يَدخُلُ مِنهُ إبلِيسُ عَلى النَّاسِ هُو الجَهلُ

"Ketahuilah bahwa pintu utama yang di mana Iblis masuk darinya kepada manusia adalah kebodohan."(Talbis Iblis, hlm.121)

Kebodohan pada manusia akan menjadi pintu utama iblis masuk untuk membisikkan kesesatan, sehingga menimbulkan pemikiran dan perilaku yang bodoh. Maka banyak kita dapati penyimpangan, keculasan, kecurangan, kesewenang-wenangan, dan kezaliman yang seringkali dilakukan manusia yang sedang memegang amanah atas kekuasaan jabatan karena kebodohannya, sudah termakan oleh bisikan iblis.

Ibnul Wazîr rahimahullah mengatakan,

"الجَاهِلُ لاَ يَعلَمُ رُتْبَةَ نَفْسِه ، فَكَيْفَ يَعْرِفُ رُتْبَةَ غَيْرِهِ."

“Orang yang jahil (bodoh) tidaklah mengetahui kadar dirinya, maka bagaimana (mungkin) dia bisa mengetahui kadar lainnya?!” (Al-‘Awashim wal Qawasim, 4/244)

Orang yang bodoh tidak akan menyadari perilaku kebodohonnya, karena tidak mengetahui kadar kebodohannya. Sehingga  lebih mengedepankan emosi (hasil bisikan iblis) daripada intelegensi. Berbeda dengan orang yang 'alim yang lebih mengedepankan intelegensi daripada emosi.

Ibnul Mu'taz rahimahullah mengatakan,

العَالِمُ يَعْرِفُ الجَاهِلَ، لِأَنَّهُ كَانَ جَاهِلاً، والجَاهِلُ لاَ يَعْرِفُ العَالِمَ،  لِأَنَّهُ لَمْ يَكُن عَالِمًا

"Seorang 'alim mengetahui (kadar) orang jahil (bodoh), karena dia dulunya adalah orang jahil. Dan orang jahil tidaklah tahu (kadar) orang 'alim, karena dia tidaklah pernah menjadi orang 'alim."(Adabud Dunya wad Dien, 1/37)

Marilah kita tinggalkan dan hentikan perilaku bodoh kita, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh bisikan iblis. Dapatkanlah ilmu dengan menuntut ilmu dan sering mengikuti majelis-majelis ta'lim. Karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan memberikan kemudahan jalan menuju surga-Nya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 

َمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فيه عِلْمًا سَهَّلَ الله له بِهِ طَرِيقًا إلى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju jannah.”(HR. Muslim, 2699)

Marilah kita senantiasa berdoa kehadirat Allah Azza wa Jalla,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ، أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ، أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ، أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ، أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak sesat atau disesatkan (setan atau orang yang berwatak setan), agar tidak berbuat kesalahan atau disalahi, agar tidak menganiaya atau dianiaya (orang), dan agar tidak berbuat bodoh atau dibodohi."

(HR. Abu Daud No. 5094, HR. Tirmidzi No. 3427, HR. An Nasai No. 5501, dan HR. Ibnu Majah No. 3884. Lihat Shahih Tirmidzi 3/152 dan Shahih Ibnu Majah 2/336)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa menjauhi kebodohan dan perilaku bodoh untuk meraih ridha-Nya.

Minggu, 05 April 2026

Hati Hati Salah pilih bisa BAHAYA

PILIH BERJUANG DI SISA UMUR ATAU TERLENA KENIKMATAN HIDUP DI DUNIA FANA. 

Sobat Gudang Da'i, Dunia memang fana, dan Allah Azza wa Jalla akan mencabut segala bentuk kenikmatan duniawi sesuai dengan kehendak-Nya, kapanpun Dia berkehendak. Namun kenapa masih banyak di antara kita yang terlena dan justru membiarkan diri terhanyut dalam kemilau duniawi yang pada akhirnya tak bisa menyelamatkan kita di akhirat kelak? Semoga kita bisa selalu menjaga diri dari keterlenaan duniawi yang bisa membuat kita lupa, bahwa sesungguhnya Allah Azza wa Jalla terus memperhatikan kita, mengawasi setiap gerak-gerik kita, bahkan apapun yang kita sembunyikan jauh di dasar hati kita, Allah Azza wa Jalla pasti tahu, karena Dia adalah Sang Maha Tahu.

Sudah semestinya kita sadari bahwa semua yang ada di dunia ini pastilah akan sirna, termasuk kekuasaan, kekayaan, popularitas, juga segala hal lainnya yang ada di dalamnya, cepat atau lambat akan meninggalkan kita. Kekuasaan, tak mampu melindungi diri dari kematian. Harta kekayaan, tak mampu menunda azal yang datangnya sudah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla. Popularitas pun tak dapat menjadi penyelamat tatkala malaikat maut datang menjemput. Semua yang kita miliki selama di dunia ini, tak akan selamanya dapat kita miliki ataupun kita pertahankan.

Hakikat dunia adalah negeri yang sementara, bukan negeri keabadian. Jika kita memanfaatkan dunia dan menyibukkannya dengan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla maka kita akan memetik hasilnya di akhirat kelak. Adapun jika kita menyibukkannya dengan syahwat, maka kita akan merugi, baik di dunia, apalagi di akhirat.

Hal ini sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla,

خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” 

(QS. Al-Hajj: 11)

Siapapun yang selama hidupnya hanya memikirkan dunia, maka kelak Allah Azza wa Jalla akan membuat dia terletih-letih dalam mengejarnya. Berbeda dengan orang menjadikan akhirat sebagai prioritas utamanya, maka dunia dengan sendirinya akan melayaninya. Bukan berarti kita tidak boleh memiliki banyak harta, akan tetapi kekayaan yang kita miliki justru harus bisa menjadi pemberat amalan baik kita di akhirat nanti. Bukan seperti yang terjadi pada saat ini, ketika banyak orang berlomba-lomba ingin menjadi berkuasa, kaya raya, maka mereka melakukan segala cara, termasuk hal-hal yang diharamkan...

Lain halnya dengan orang-orang yang menyibukkan dunia dengan sesuatu yang akan bermanfaat untuknya kelak di sisi Allah Azza wa Jalla, mereka adalah orang-orang yang beruntung, baik di dunia maupun di akhirat. Dia beruntung di dunia karena menyibukkan diri dalam amal kebaikan. Demikian pula, dia beruntung di akhirat karena telah membekali diri dengan berbagai amal shalih.

Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Qur'an,

فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا

“Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdaya kamu.” (QS. Luqman: 33)

Dalam ayat ini, Allah Azza wa Jalla melarang kita untuk terperdaya dengan kehidupan dunia. Jangan sampai kita sibuk dengan kehidupan dunia dan lalai dengan kehidupan akhirat. Bahkan maksudnya, sibukkanlah dunia ini dengan niat untuk menolongmu dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Barangsiapa yang memanfaatkan dunia ini dan menyibukkannya untuk kebaikan dan maslahat agama dan dunianya, merekalah orang-orang yang beruntung. Akan tetapi, barangsiapa yang sibuk dengan dunia dan menjadikan dunia itu sendiri sebagai tujuan dan hasratnya, mereka ini sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla,

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ

“Allah meluaskan rizki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu dibanding dengan kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan yang sedikit.” 

(QS. Ar-Ra’du: 26)

Hari ini saatnya kita bisa beramal, tanpa menghitungnya, kelak di akhirat kita hanya bisa menghitung amal tanpa bisa beramal lagi. Pada akhirnya apa yang sudah kita persiapkan untuk menghadapi kematian? Hanya ada dua pilihan untuk kita, berjuang di sisa umur kita untuk mendapatkan surga-Nya atau terlena oleh kenikmatan hidup dunia yang fana.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa meningkatkan amal shaleh sebagai bekal terbaik kehidupan di akhirat untuk meraih ridha-Nya.