Senin, 05 Oktober 2026

Rangkaian Takdir Manusia

BELAJAR MENERIMA RANGKAIAN TAKDIR

‎
‎Sobat gudang da'i, Perjalanan kehidupan manusia tidaklah selalu sesuai diharapkan, terkadang seorang manusia harus melewati jalan terjal setelah beberapa waktu menikmati jalan yang landai. Hari-harinya pun terkadang gembira, namun sewaktu-waktu ia dihampiri rasa sedih, duka dan nestapa, inilah tabiat kehidupan. Tak ada yang dapat mengelak dari kenyataan ini, Allah Azza wa Jalla berfirman,
‎

‎لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ
‎
‎“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.َ(QS. Al-Balad: 4)
‎
‎Di antara kesedihan yang banyak menimpa manusia adalah kondisi di mana seseorang mendapatkan sesuatu yang tidak diharapkannya. Banyak orang yang berusaha menggapai sesuatu yang kelihatannya baik, ia mati-matian mendapatkannya dan mengorbankan apapun yang ia miliki demi terwujudnya impian itu. Tetapi tanpa disadari hal itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ketika hal seperti ini terjadi, tak sedikit orang yang menyalahkan pihak lain, bahkan Allah Azza wa Jalla, Rabb yang mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya pun tak luput untuk disalahkan. Orang-orang seperti ini, hendaknya mengingat sebuah firman Allah Azza wa Jalla,
‎
‎وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
‎
‎“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al-Baqarah: 216)
‎
‎Ayat ini merupakan kaidah yang agung, kaidah yang memiliki hubungan erat dengan salah satu prinsip keimanan, yaitu iman kepada qadha dan qadar.
‎
‎Inti dari semua ini adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh seorang penyair,
‎
‎عَلَى الْمَرْءِ أَنْ يَسْعَى إِلَى الْخَيْرِ جُهْدَهُ
‎وَلَيْسَ عَلَيْهِ أَنْ تَتِمَّ الْمَقَاصِدُ
‎
‎"Seseorang seharusnya berusaha sekuat tenaganya mendapatkan kebaikan. Tetapi, ia tidak akan bisa menetapkan keberhasilannya."
‎
‎Segala sesuatu yang terjadi pada seorang Mukmin dan hal tersebut tidak sesuai dari apa yang diharapkannya adalah salah satu bentuk kasih sayang-Nya. Ujian itu hadir dengan tujuan menuntut mereka menuju kesempurnaan diri dan kesempurnaan kenikmatan-Nya. Jangan buru-buru mencela musibah yang Allah Azza wa Jalla berikan, yakinlah ketetapan Allah Azza wa Jalla adalah yang terbaik. Allah Azza wa Jalla juga berfirman,
‎
‎فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
‎
‎“Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19)
‎
‎Belajarlah menerima rangkaian takdir yang menimpa diri kita. Takdir merupakan pertemuan antara ikhtiar atau usaha manusia dengan kehendak Allah Azza wa Jalla. Hidup merupakan rangkaian usaha demi usaha, sambungan ikhtiar demi ikhtiar. Namun ujung dari usaha dan puncak ikhtiar tidak selalu berhubungan langsung dengan kesuksesan dan keberhasilan. Ada simpul lain yang menghubungkan dengan keberhasilan, yaitu kehendak Allah Azza wa Jalla. Simpul yang tidak diketahui oleh manusia, yang gelap bagi kita semua, dan tiada seorang pun yang dapat mengetahuinya (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok.
‎
‎Belajarlah menerima rangkaian takdir yang menimpa diri kita. Sebelum kita jauh melangkah, sebelum kita menentukan pilihan, mohonlah petunjuk kepada-Nya seraya berdoa,
‎
‎Ya Allah, aku mohon pilihan-Mu menurut pengetahuan-Mu
‎dan aku mohon dengan kekuasaan-Mu, dan aku mohon karunia-Mu yang Agung...
‎
‎Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Kuasa dan aku tidak berkuasa...
‎
‎Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusanku ini baik bagiku, di dalam agamaku dan hidupku, serta baik akibatnya bagiku (di masa sekarang atau masa yang akan datang), maka kuasakanlah dan mudahkanlah urusan ini untukku, kemudian berkahilah untukku; dan apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini tidak baik bagiku, di dalam agamaku dan hidupku, serta akibatnya bagiku (di masa sekarang dan masa yang akan datang), maka jauhkanlah urusan ini dariku dan jauhkanlah aku dari urusan ini, dan tentukanlah yang baik untukku di manapun aku berada, kemudian ridhailah aku dengan kebaikan. 
‎
‎Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa ridha atas rangkaian takdir yang telah ditetapkan Allah Azza wa Jalla untuk meraih ridha-Nya.

Rabu, 30 September 2026

Kepalsuan pasti akan terungkap

SEINDAH APAPUN MENGHIASI SEBUAH KEBATHILAN, PASTI AKAN TERSINGKAP KEPALSUANNYA


Sobat gudang da'i, G30S/PKI merupakan tragedi kelam yang menorehkan luka mendalam dalam sejarah Indonesia, di mana terjadi penculikan dan pembunuhan perwira tinggi militer oleh pasukan yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung dari Batalyon Cakra Birawa pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965. Peristiwa ini menjadi bukti nyata betapa pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, dengan _tasamuh_ (toleransi), serta musyawarah dalam menyelesaikan perbedaan. Kita harus belajar dari masa lalu agar tidak terulang kembali tragedi kelam ini di masa depan.

Pertarungan antara yang _haq_ dan yang _bathil_ berikut para pengusung dan pembela masing-masing adalah sebuah kemestian hidup. Sebab, keduanya bertolak belakang, tidak mungkin berkumpul satu sama lain melainkan saling berusaha mengenyahkan yang lain. Berpegang kepada salah satunya, mesti akan meninggalkan yang lain, dan itu kepastian. Paling tidak, akan melemahkan yang ditinggalkan atau ditolak.

Seandainya terlihat "kerukunan" antara yang _haq_ dan yang _bathil_ tanpa ada perseteruan dan pertikaian di antara para pembela dan pengusungnya, boleh jadi karena ada sebab tertentu. Di antaranya ialah karena kelemahan para pengusung dan pembela masing-masing ( _al-haq_ dan _al-bathil_) ini, atau ketidaktahuan para pengikut masing-masing tentang hakikat dari kebenaran atau kebathilan yang mereka perjuangkan, berikut konsekuensinya, sehingga melemahkan pengaruh kebathilan dan kebenaran itu pada pihak yang membela dan mengusungnya.

Walau bagaimanapun _al-haq_ ialah semua bentuk ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, sedangkan _al-bathil_ adalah semua bentuk ketaatan kepada syaitan. Oleh karena itu, keduanya tidak mungkin dapat bersatu selama-lamanya.

Betapapun banyaknya dan menariknya keadaan kebathilan, dia pasti lenyap. Itu semua adalah _sunnatullah_ yang tidak mungkin berubah. Berbagai syubhat dan kerancuan berpikir, seindah apapun menghiasi sebuah kebathilan, pasti akan tersingkap kepalsuannya.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

 وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu mencampur-adukkan kebenaran dengan kebathilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 42)

Larangan ini merupakan larangan yang besar dan serius. Hal ini karena hak menentukan halal dan haram adalah ketentuan Allah Azza wa Jalla dan hak-Nya semata-mata. Karena itu Allah Azza mengecam mereka yang mencampur-adukkan antara yang haq dan yang bathil, antara ketaatan dan kemaksiatan, antara kebenaran dan kebohongan. Sebab dengan cara-cara itulah dan tangan-tangan kotor mereka itulah menyebabkan hukum Allah Azza wa Jalla bercampur aduk antara larangan dan suruhan.

Sahabat Nabi, bernama Abdullah bin Abbas, yang sangat memahami tafsir Al-Quran, menjelaskan ayat ini dalam kalimat, ”Janganlah kalian menyembunyikan pengetahuan yang kalian miliki mengenai kebenaran Rasul-Ku dan juga apa yang dibawanya. Sedangkan kalian mendapatkannya tertulis dalam kitab-kitab yang berada di tangan kalian.

Sebab ayat-ayat Allah Azza wa Jalla jelas sangat berarti, sedangkan mereka yang mengetahui lalu menyembunyikan pengetahuan tersebut. Maka akan mengandung bahaya yang sangat besar bagi manusia, yaitu tersesatnya mereka dari petunjuk yang dapat menjerumuskan mereka ke neraka. Namun justru mereka benar-benar mengikuti kebathilan yang dikatakan kepada mereka, yang telah dicampur-adukkan dengan kebenaran.

Semoga kita dapat mengetahui dan mengikuti yang benar adalah benar, dan berlindung dari yang salah adalah salah,

اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar, dan berikanlah kami kekuatan untuk mengikutinya, serta tunjukkanlah kepada kami yang bathil itu bathil dan berikanlah kami kekuatan untuk menjauhinya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa memegang teguh kebenaran dan menjauhkan diri dari kebathilan untuk meraih ridha-Nya.

Kamis, 13 Agustus 2026

Mana yang lebih penting?

MENGHINDARI KEMUDHARATAN LEBIH DIUTAMAKAN KETIMBANG MENDATANGKAN KEMASLAHATAN


Sobat gudang da'i, Allah Azza wa Jalla sengaja menciptakan keberagaman agar manusia saling menghormati dan menghargai, dan inklusivitas menjadi keharusan. Ada beberapa prinsip yang selalu diajarkan Rasulullah  shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya untuk membangun Islam yang _rahmatan lil alamin.

Pertama, _at-tawassuth_ atau sikap di tengah-tengah, moderat, mendamaikan, mengharuskan umat Islam menjadi panutan atau ukuran penilaian atas sikap dan perbuatan.

Kedua, _at-tawazun_ atau seimbang dalam segala hal.

Ketiga _al-i'tidal_ yakni tegak lurus atau adil karena Islam datang untuk menyamakan kedudukan manusia dalam peradilan dan hukum.

Keempat, _tasamuh_ atau toleransi. Menghargai perbedaan dan menghormati orang yang memiliki prinsip hidup tidak sama. Namun, bukan berarti _tasyabbuh_ (menyerupai), mengakui atau meneguhkan keyakinan yang berbeda. Sebagaimana sabda Rasulullullah shallallahu 'alaihi wa sallam,

"Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka."

(HR. Ahmad No. 250 dan Abu Daud No.4031)

Prinsip kelima, _ta'awun_ yaitu tolong-menolong.

Keenam adalah _akhlakul karimah_ atau berakhlak yang baik dalam berinteraksi dengan orang-orang yang sejalan maupun berselisih pendapat.

Agama Islam merupakan agama damai yang memiliki karakter anti kekerasan dan anti kerusakan. Sikap anarkisme bukanlah cerminan agama Islam, karena hal itu sama saja menjatuhkan diri dalam kebinasaan. Padahal segala perbuatan yang menjatuhkan diri dalam kebinasaan itu dilarang oleh Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firman-Nya,

 وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ 

"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik".(QS. Al Baqarah: 195)

Beriman perlu nalar ilmu, sebagaimana ilmu perlu nalar iman. Jangan sekali-kali kita memisahkan keduanya. Jika itu terjadi maka akan berbuah bencana bagi agama dan masyarakat. Hal ini juga mendasarkan pada dalil _Darul mafasid muqaddamun 'ala jalbil mashalih_ (menghindari kemudharatan lebih diutamakan ketimbang mendatangkan kemaslahatan).

Semoga Allah Azza Wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita tetap istiqamah senantiasa dapat memetik hikmah dari _ayat-ayat Kauniyah-Nya_, mengindar dari menjatuhkan diri dalam kebinasaan dan senatiasa berbuat baik untuk meraih ridha-Nya.