LEGITIMASI KEBOHONGAN AKAN MENENGGELAMKAN DAN MEMATIKAN KEJUJURAN
Sobat gudang da'i, Dikisahkan suatu hari Abu Nawas sedang berjalan di tengah pasar. Topinya dibuka sambil berjalan. Lalu ia melihat ke dalam topinya dengan penuh bahagia dan berseri-seri yang membuat orang lain heran. Abu Nawas bercerita bahwa di dalam topinya, ia melihat surga yang dihiasi bidadari yang cantik dan menawan. Namun hanya orang yang beriman saja yang bisa melihat pemandangan itu. Orang yang ada di pasar tersebut sebagian ada yang percaya dengan Abu Nawas, tapi banyak pula yang menganggap Abu Nawas berbohong. Singkatnya, ia diadili di depan raja...
Abu Nawas pun menawari raja untuk melakukan hal yang sama dengan rakyatnya. Dan pastilah raja tidak melihat surga apalagi bidadari dalam topi Abu Nawas. Namun mereka berpikir jika ia mengatakan bahwa ia tidak melihat surga, pasti reputasinya akan rusak. Oleh karena itu, raja mengatakan bahwa ia juga menyaksikan surga dan bidadari di dalam topi Abu Nawas...
Abu Nawas tertawa sendiri sambil bergumam, “Beginilah akibatnya kalau ketakutan sudah menenggelamkan kejujuran. Kebohongan pun akan merajalela.”
Dari kisah tersebut dapat diambil _ibrah_ (pelajaran), ketika keberanian lenyap dan ketakutan telah menenggelamkan dan mematikan kejujuran, maka kebohongan akan melenggang kangkung sebagai sesuatu yang “benar”.
Kasus legitimasi kebohongan versi Abu Nawas ini, mungkin telah terjadi disekitar kita. Tentu dengan aneka versinya. Bagaimana dengan kondisi kita saat ini dan kemarin, hari ini dan esok? Marilah kita berani untuk jujur, karena kejujuran adalah kebaikan yang utama.
Jangan berharap kebaikan, jika diri kita menjauh darinya. Jika diri kita tak memulainya, kapan lagi waktunya. Allah Azza wa Jalla berfirman,
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula."
Inilah tabungan sesungguhnya. Tabungan amal kebaikan. Jika suatu saat nanti kita membutuhkannya pasti kita akan mudah mengambilnya atau Allah Azza wa Jalla yang mudah memberikannya...
Bagaimana mungkin kita akan mengambilnya jika tak pernah menyimpannya dan tak pernah menabungnya. Ingalah bahwa Allah Azza wa Jalla akan memberi jika kita memiliki. Maka milikilah kejujuran sebagai suatu kebaikan, milikilah sesuatu bekal yang cukup agar bisa membantu keperluan kita kelak di akhirat.
Dunia pasti akan sirna dan segera kita tinggalkan. Akhirat suatu hal yang pasti akan kita temui, tanpa diragukan lagi. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla menyampaikan ancaman di akhirat dan juga memotivasi untuk meraih kebaikan di negeri yang kekal abadi. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ
“Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya.”
Di akhirat cuma ada dua kemungkinan, yaitu mendapatkan siksa yang kekal ataukah mendapatkan ampunan yang kekal dari Allah Azza wa Jalla dan meraih keridhaan-Nya.
Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
Disebutkan dalam sebuah hadits, dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَوْضِعُ سَوْطٍ فِى الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Satu bagian kecil nikmat di surga lebih baik dari dunia dan seisinya.”(HR. Bukhari no. 3250)
Sungguh, nikmat dunia dibanding dengan nikmat akhirat amat jauh sekali. Namun kenapa kita lebih mengharap dunia dari akhirat? Mengapa kita lebih mengharap ridha manusia daripada ridha Allah Azza wa Jalla?
Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga tetap istiqamah senantiasa mengumpulkan bekal amal-amal terbaik menuju akhirat untuk meraih ridha-Nya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar