Minggu, 23 November 2025

Kapan Berhenti Berjuang ??

BERJUANG DI SISA UMUR UNTUK MENDAPAT SURGA-NYA ATAU TERLENA KENIKMATAN DUNIA FANA

Sobat gudang da'i, Dunia memang fana, dan Allah Azza wa Jalla akan mencabut segala bentuk kenikmatan duniawi sesuai dengan kehendak-Nya, kapanpun Dia berkehendak. Namun kenapa masih banyak di antara kita yang terlena dan justru membiarkan diri terhanyut dalam kemilau duniawi yang pada akhirnya tak bisa menyelamatkan kita di akhirat kelak? Semoga kita bisa selalu menjaga diri dari keterlenaan duniawi yang bisa membuat kita lupa, bahwa sesungguhnya Allah Azza wa Jalla terus memperhatikan kita, mengawasi setiap gerak-gerik kita, bahkan apapun yang kita sembunyikan jauh di dasar hati kita, Allah Azza wa Jalla pasti tahu, karena Dia adalah Sang Maha Tahu.

Sudah semestinya kita sadari bahwa semua yang ada di dunia ini pastilah akan sirna, termasuk kekuasaan, kekayaan, popularitas, juga segala hal lainnya yang ada di dalamnya, cepat atau lambat akan meninggalkan kita. Kekuasaan, tak mampu melindungi diri dari kematian. Harta kekayaan, tak mampu menunda ajal yang datangnya sudah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla. Popularitas pun tak dapat menjadi penyelamat tatkala malaikat maut datang menjemput. Semua yang kita miliki selama di dunia ini, tak akan selamanya dapat kita miliki ataupun kita pertahankan.

Hakikat dunia adalah negeri yang sementara, bukan negeri keabadian. Jika kita memanfaatkan dunia dan menyibukkannya dengan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla maka kita akan memetik hasilnya di akhirat kelak. Adapun jika kita menyibukkannya dengan syahwat, maka kita akan merugi, baik di dunia, apalagi di akhirat.

Hal ini sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla,

خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” 

(QS. Al-Hajj: 11)

Siapapun yang selama hidupnya hanya memikirkan dunia, maka kelak Allah Azza wa Jalla akan membuat dia terletih-letih dalam mengejarnya. Berbeda dengan orang menjadikan akhirat sebagai prioritas utamanya, maka dunia dengan sendirinya akan melayaninya. Bukan berarti kita tidak boleh memiliki banyak harta, akan tetapi kekayaan yang kita miliki justru harus bisa menjadi pemberat amalan baik kita di akhirat nanti. Bukan seperti yang terjadi pada saat ini, ketika banyak orang berlomba-lomba ingin menjadi berkuasa, kaya raya, maka mereka melakukan segala cara, termasuk hal-hal yang diharamkan.

Lain halnya dengan orang-orang yang menyibukkan dunia dengan sesuatu yang akan bermanfaat untuknya kelak di sisi Allah Azza wa Jalla, mereka adalah orang-orang yang beruntung, baik di dunia maupun di akhirat. Dia beruntung di dunia karena menyibukkan diri dalam amal kebaikan. Demikian pula, dia beruntung di akhirat karena telah membekali diri dengan berbagai amal shalih.

Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Qur'an,

فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا

“Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdaya kamu.” (QS. Luqman: 33)

Dalam ayat ini, Allah Azza wa Jalla melarang kita untuk terperdaya dengan kehidupan dunia. Jangan sampai kita sibuk dengan kehidupan dunia dan lalai dengan kehidupan akhirat. Bahkan maksudnya, sibukkanlah dunia ini dengan niat untuk menolongmu dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Barangsiapa yang memanfaatkan dunia ini dan menyibukkannya untuk kebaikan dan maslahat agama dan dunianya, merekalah orang-orang yang beruntung. Akan tetapi, barangsiapa yang sibuk dengan dunia dan menjadikan dunia itu sendiri sebagai tujuan dan hasratnya, mereka ini sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla,

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ

“Allah meluaskan rizki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu dibanding dengan kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan yang sedikit.” (QS. Ar-Ra’du: 26)

Hari ini saatnya kita bisa beramal, tanpa menghitungnya, kelak di akhirat kita hanya bisa menghitung amal tanpa bisa beramal lagi. Pada akhirnya apa yang sudah kita persiapkan untuk menghadapi kematian? Hanya ada dua pilihan untuk kita, berjuang di sisa umur kita untuk mendapatkan surga-Nya atau terlena oleh kenikmatan hidup dunia yang fana.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa meningkatkan amal shaleh sebagai bekal terbaik kehidupan di akhirat untuk meraih ridha-Nya.

Jangan Lupa untuk mendapatkan Banyak Makalah dan Skripsi, silahkan berkunjung ke Tempat Makalah dan Skripsi Terlengkap

Rabu, 19 November 2025

Jujur adalah keniscayaan

JUJUR ITU KETENANGAN DAN DUSTA ITU KERAGU-RAGUAN


Sobat gudang da'i,Tidak ada yang Allah Azza wa Jalla jauhkan atau dekatkan, melainkan di situ ada kebaikan.

Tidak ada yang Allah Azza wa Jalla tunda atau segerakan, melainkan di situ ada kebaikan.

Tidak ada yang Allah Azza wa Jalla pisahkan atau pertemukan, melainkan di situ juga ada kebaikan.

Sebab Allah Azza wa Jalla lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita, sedangkan kita tidak pernah mengetahuinya...

Jadi, ketenangan sangat kita perlukan dalam menghadapi berbagai situasi dalam hidup ini. Terutama dalam situasi sulit dan ditimpa musibah. Jika hati dalam kondisi tenang, maka buahnya lisan dan anggota badan pun akan tenang. Tindakan akan tetap pada koridor yang dibenarkan dan jauh dari sikap membahayakan. Kata-kata akan tetap dalam hikmah dan tidak keluar dari kesantunan, sesulit dan separah apa pun situasi yang sedang kita hadapi.

Ketenangan itu pada hakikatnya milik orang yang beriman. Ketenangan adalah karunia Allah Azza wa Jalla yang hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman. Allah Azza wa Jalla berfirman,

ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al Taubah: 26)


لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبً

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).”(QS. Al Fath: 18)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya pernah mengulang-ulang kalimat doa berikut dalam perang ahzab,

فَأَنْزِلَنَّ سَكِيْنَةً عَلَيْنَا   وَثَبِّتِ الأَقْدَامِ إِنْ لَاقِينَا

“Maka turunkanlah ketenangan kepada kami, serta teguhkanlah kaki-kaki kami saat kami bertemu musuh.”

Maka Allah Azza wa Jalla memberikan mereka kemenangan dan meneguhkan mereka.

Agar kita tetap tenang juga dianjurkan untuk senantiasa membaca Al Qur'an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ »

“Ia adalah ketenangan yang turun karena Al Qur'an.” (HR. Bukhari: 4839, Muslim: 795)

Memperbanyak dzikrullah juga dapat mejadikan kita tenang. Allah Azza wa Jalla berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenang.” (QS. Al Ra’du: 28)

Demikian halnya bersikap _wara’_ (hati-hati) dari perkara syubhat dapat menjadikan kita tetap tenang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْبِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَالإِثْمُ مَا لَمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلَمْ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَإِنْ أَفْتَاكَ الْمُفْتُونَ

“Kebaikan itu adalah yang jiwa merasa tenang dan hati merasa tentram kepadanya. Sementara dosa adalah yang jiwa merasa tidak tenang dan hati merasa tidak tentram kepadanya, walaupun orang-orang mememberimu fatwa mejadikan untukmu keringanan.” 

(HR. Ahmad no. 17894, dishahihkan al Albani dalam Shahih al Jami no. 2881)

Ketenangan juga dapat kita peroleh dengan jujur dalam berkata dan berbuat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

“Sesungguhnya jujur itu ketenangan dan dusta itu keragu-raguan.” (HR Tirmidzi no: 2518)

Jika kita dapat mempertahankan ketenangan hati sehingga senantiasa teguh berada dalam jalan Allah Azza wa Jalla, apa pun yang terjadi kepada kita, maka bergembiralah, karena kelak saat kita meninggalkan dunia yang fana ini, akan ada yang berseru kepada kita dengan seruan ini,

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ﴿٢٧﴾ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً﴿٢٨﴾فَادْخُلِي فِي عِبَادِي

"Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi di-ridhai-Nya. Kemudian masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. Al-Fajr: 27-30)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa menjaga ketenangan hati dan teguh berada dalam jalan Allah Azza wa Jalla  apa pun yang terjadi untuk meraih ridha-Nya.

Sabtu, 01 November 2025

Salah Niat apa yang terjadi

NIATKAN HIDUP DI DUNIA UNTUK KEABADIAN DI AKHIRAT



Sobat gudang da'i,Tak sedikit manusia yang lalai atau terperosok dalam fananya kehidupan dunia. Apalagi dengan berbagai potensi dan nikmat yang melimpah ruah yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada hamba-hamba-Nya.

Sejak awal Allah Azza wa Jalla menggariskan misi utama, yaitu _dzikra ad-dar_ atau menjadikan Akhirat sebagai tujuan dan dunia menjadi perantara yang menghubungkannya.

Bahwa pekerjaan utama orang beriman adalah senantiasa ber amar ma'ruf nahi munkar (menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran) di jalan Allah Azza wa Jalla. Menyeru kepada segenap manusia untuk mengingat kehidupan Akhirat ( akhirat oriented).

Ketika orang itu meniatkan hidupnya di dunia untuk kehidupan abadi di hari Akhirat, niscaya seluruh perilakunya senantiasa terkontrol dengan rambu-rambu syariat.

Bahkan ketika ia menguasai segenap kekuasaan dan kekuatan serta ilmu pengetahuan sebagai pilar utama dalam meraih sukses hidup. Iapun tak mudah goyah dari setiap bujuk rayu kesenangan dunia. Oleh karenanya Allah Azza wa Jalla tak segan menyanjung manusia demikian sebagai manusia-manusia terbaik pilihan Allah Azza wa Jalla. Hal itu dikarenakan seluruh amal perbuatannya bernilai ibadah di sisi Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَٱذۡكُرۡ عِبَـٰدَنَآ إِبۡرَٲهِيمَ وَإِسۡحَـٰقَ وَيَعۡقُوبَ أُوْلِى ٱلۡأَيۡدِى وَٱلۡأَبۡصَـٰرِ (٤٥) إِنَّآ أَخۡلَصۡنَـٰهُم بِخَالِصَةٍ۬ ذِڪۡرَى ٱلدَّارِ (٤٦) وَإِنَّہُمۡ عِندَنَا لَمِنَ ٱلۡمُصۡطَفَيۡنَ ٱلۡأَخۡيَارِ (٤٧)

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan menganugerahkan kepada mereka akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan manusia kepada negeri Akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (QS. Shad: 45-47)

Menurut mufassir  Abdurrahman as-Sa’di, para Nabi yang digelari _al-mushtafaina al-akhyar_ (orang-orang pilihan di sisi Allah) disebabkan mereka banyak mengingat mati dan Hari Akhirat. Dengannya, hati mereka tenang menghadapi godaan dunia. Jiwa mereka khusyuk menghamba hanya kepada Allah Azza wa Jalla.Di waktu yang sama, orang-orang pilihan Allah Azza wa Jalla itu kian bergairah menunaikan aktifitas yang berdimensi sosial.

Mereka sadar, ilmu itu bisa mengalirkan pahala ketika diamalkan dan diajarkan kepada orang lain. Mereka yakin, kekuasaan tersebut baru bermanfaat jika dimaksimalkan untuk mengayomi seluruh lapisan masyarakat.

Dalam ayat di atas, secara tersurat akan menyebut sebagian rahasia kemuliaan Nabi Ibrahim dan keturunannya, yaitu ulil aidiy dan ulil abshar.

Imam Mujahid menerangkan, ulil al-aidiy adalah kekuatan untuk taat beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dan ulil al-abshar berarti pandangan mendalam tentang al-haq (kebenaran)...

Sedang Qatadah dan as-Siddiy menuturkan, ulil aidiy dan ulil abshar bermakna mengerahkan segenap kekuatan fisik dalam rangka beribadah dan kemapanan ilmu agama.

Jadikanlah hal tersebut sebagai sebab dan bukan tujuan. Menurut al-Alusi, pengarang _Tafsir Ruh al-Ma’ani_, meski Allah Azza wa Jalla memerintahkan secara langsung untuk meraih dan mengumpulkan dua kekuatan tersebut, namun tujuan kehidupan seorang Muslim bukan untuk meraih itu semata. Karena ia hanyalah sebab dan sarana saja. Bukan sebagai tujuan akhir kehidupan kita...

Dzikru as-sabab yuradu bi hi al-musabbab (Menyebutkan suatu sebab namun yang diinginkan adalah akibat). Demikian sebuah kaidah ilmu  mengajarkan. Sesungguhnya dua potensi yang diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla tersebut hanyalah sebagian dari materi yang ada dalam kehidupan dunia.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa setiap amal perbuatan kita bernilai ibadah untuk meraih ridha-Nya.