Sabtu, 16 Mei 2026

Sesuatu yang tidak pernah menunggumu

HUJAN YANG TURUN TIDAK PERNAH MENUNGGU APAKAH KITA SUDAH SEDIA PAYUNG ATAU BELUM

Sobat gudang da'i, Bagi dunia, kita mungkin seorang miliarder, penguasa yang sangat kuat, atau tokoh penting. Tapi, bagi Malaikat Maut, kita tidak lain hanyalah sebuah nama yang sudah ada dalam daftarnya, 

Hujan yang turun tidak pernah menunggu apakah kita sudah sedia payung atau belum. Demikian juga dengan kematian, ia akan datang menjemput setiap saat, tak peduli apakah kita sudah siap atau belum.

Sehebat apapun seseorang, segesit bagaimanapun ia berlari, tidak ada yang bisa lepas dari kematian. Di manapun, kapanpun, dan dalam keadaan bagaimanapun, kematian itu pasti akan datang, baik dalam keadaan siap atau tidak siap, kematian adalah suatu kepastian. Semoga ini menjadi _tadzkirah_ bagi kita...

Mengingat kematian bukan sekadar ingat dan tidak lupa, namun lebih dari itu mengingat kematian berarti mempersiapkan bekal sebelum ajal datang. Allah Azza wa Jalla berfirman,

قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu.” (QS. Al-Jumu`ah : 8)

Sesungguhnya kematian merupakan langkah yang sudah pasti, kita hanyalah menunggu gilirannya. Untuk itulah kita harus persiapan memperbanyak bekal dalam perjalanan panjang menuju negeri akhirat.

Dalam menghadapi kematian tersebut seorang Muslim perlu menyiapkan bekal yang setidak-tidaknya meliputi empat macam. Pertama, transendensi yang bertolak dari kekuatan iman kepada Allah Azza wa Jalla. Transendensi menunjuk pada kemampuan manusia menyeberang atau melintasi batas-batas alam fisik menuju alam rohani yang tak terbatas, yaitu Allah Azza wa Jalla. Ciri yang mula-mula dari orang takwa adalah transendensi, yu`minun bi al-ghayb,

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

"Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka."(QS. Al Baqarah: 3)

Kedua, distansi, yaitu kemampuan menjaga jarak dari setiap godaan dan kesenangan duniawi yang menipu ( _al-Tajafa fi Dar al-Ghurur_). Distansi adalah kunci keselamatan.

Dalam bahasa modern, seperti dikemukakan al-Taftazani, distansi tak mengandung makna menolak dunia atau meninggalkannya, tetapi mengelola dunia dan menjadikannya sebagai sarana untuk memperbanyak ibadah dan amal shalih. Di sini, dunia dipahami hanya sebagai alat (infrastruktur), bukan tujuan akhir.

Ketiga, kapitalisasi dalam arti kemampuan menjadikan semua aset yang dimiliki sebagai modal untuk kemuliaan di akhirat. Penting diingat, kapitalisasi hanya mungkin dilakukan orang yang benar-benar percaya kepada Allah Azza wa Jalla dan percaya pada balasan-Nya.

Firman-Nya, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan, sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: 45-46)

Keempat, determinasi dalam arti memiliki semangat dan kesungguhan dalam mengarungi kehidupan. Determinasi tak lain adalah perjuangan itu sendiri. Dalam Islam, perjuangan itu bersifat multideminsional dan multi-quotient, meliputi perjuangan fisikal ( jihad), intelektual ( ijtihad), dan spiritual ( mujahadah). 

Allah Azza wa Jalla akan  membukakan pintu-pintu kemenangan bagi orang yang berjuang dan memiliki determinasi dalam perjuangan,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik."(QS. Al Ankabut: 69)


Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa mempersiapkan takwa sebagai bekal terbaik untuk meraih ridha-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar