Senin, 23 Februari 2026

Kebanyakan Gaya Membunuhmu

JANGAN TERLALU MEMBEBANI DIRI 


Sobat Gudang Da'i, Resiprokal (Agreement on Reciprocal Trade/ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat telah disepakati beberapa waktu lalu. Banyak kritik terkait perjanjian tarif dagang tersebut karena isi dari perjanjian tersebut dinilai tidak adil. Banyak kata ‘Indonesia shall..’, yang mana berarti Indonesia harus melakukan apa yang diminta AS. Ada 214 kata Indonesia shall, sementara AS hanya 9. Di sisi lain juga berpotensi merusak tatanan perlindungan konsumen muslim ketika produk AS yang masuk ke Indonesia tidak lagi wajib bersertifikat halal.

Manusia tidak diberikan beban oleh Allah Azza wa Jalla melainkan apa yang dia sanggupi saja. Ia tidak boleh _takalluf_ (terlalu membebani diri) dalam mencari harta dan tahta sehingga berbuat yang haram dan melalaikan hak-hak Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla telah berfirman,

وَلا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا وَلَدَيْنَا كِتَابٌ يَنْطِقُ بِالْحَقِّ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ

“Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu Kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.” 

(QS. Al-Mukminuun: 62)

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلالا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan sebagiannya halal?” Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan ijin kepadamu tentang ini atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (QS. Yunus: 59)

Menjadi yang terbaik itu seringkali terlihat sulit, karena kita kerap terjebak memikirkan apa yang belum mampu kita lakukan. Jebakan yang menghadirkan keraguan sampai takut melangkah untuk menjadi berbeda dengan yang lain dan menang. Menjadilah yang terbaik di antara yang terbanyak, karena yang terbanyak belum tentu terbaik. Menjadi diri sendiri seutuhnya dan memberikan yang terbaik untuk yang lain adalah sebaik-baiknya manusia. Manusia yang paling banyak menebar kebermanfaatan bagi manusia lainnya,

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

"Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." 

(HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Awsath No. 5787. Al Qudha’i, Musnad Syihab No. 129)

Menjadi manusia yang terbaik adalah mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya,

   خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

"Sebaik-baiknya kalian adalah yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya." (HR. Bukhari No. 5027, dari Utsman

Memang untuk menjadi yang terbaik, jalan apapun bisa ditempuh. Entah itu jalan yang benar ataupun jalan yang menyesatkan. Mulai dari yang jujur seperti berusaha meningkatkan kualitas diri tanpa kelicikan, keculasan dan kecurangan. Kita lihat dari sisi positifnya, menjadi yang terbaik itu perlu usaha, perjuangan, pengorbanan dan yang utama ridha Allah Azza wa Jalla. Ada yang mudah didapat hanya dengan sedikit usaha ada yang sulit didapat dan menuntut usaha yang keras. Jika didapat melalui cara-cara salah, licik, culas, curang, apa lagi menghalalkan segala cara, tidak hanya menjadikan itu sebagai perbuatan dosa, tapi jika suatu ketika terbongkar akan mencoreng kehormatan sendiri.

Sekalipun tidak terbongkar kelicikan, keculasan dan kecurangannya di dunia saat ini, ingatlah bahwa hukum akhirat menanti.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

« لاَ يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلاَ يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ

"Tidaklah lurus keimanan seorang hamba sehingga lurus hatinya dan tidaklah lurus hatinya sehingga lurus lisannya."

(HR Ahmad dan al-Baihaqi)

Kita harus berihtiar untuk senantiasa mengikuti kebenaran, menjauhkan diri dari para kaum pendusta kebenaran dalam situasi apapun dan dalam kondisi bagaimanapun.

▫️وقال ابن المعتز

" اجتنِبْ مصاحبة الكذاب ، فإن اضطررت إليه فلا تصدّقه ، ولا تُعلِمه أنك تكذبه ، فينتقل عن وده ، ولا ينتقل عن طبعه ... “.

 زهر الآداب: [٣٨٧/١]

Berkata Ibnul Mu'taz :

"Jauhkan diri dari berteman dengan pendusta, dan jika engkau sangat butuh kepadanya maka jangan engkau mempercayainya, dan jangan engkau tunjukkan bahwa dirimu mendustakannya, sehingga akan berpindah menjadi mencintainya, dan tidak akan lepas dari tabiatnya..."(Zahrul Adab, 1/387)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa tidak terlalu membebani diri dalam melakukan amal terbaik, tapi menjadi yang terbaik dengan menebar kebermanfaatan kepada yang lain untuk meraih ridha-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar