Sabtu, 07 Februari 2026

Doa Pengubah Takdir

TIDAK ADA YANG MAMPU MENOLAK TAKDIR ALLAH KECUALI DOA DAN TIDAKLAH MENAMBAH USIA KECUALI KEBAIKAN. 

Sobat gudang da'i, hakikatnya kita hidup di dunia adalah menjalani rangkaian takdir satu ke takdir yang lain. Manusia sebagai Makhluk _Musayyar,_ artinya dia tidak bebas menerima dan menolak apa yang diberikan oleh Allah Azza wa Jalla, misalnya warna kulit atau cacat tubuh yang ada. Namun manusia sebagai makhluk _Mukhoyyar,_ artinya dia bebas menerima dan menolak kondisi yang melingkupinya, misalnya melakukan kebaikan seperti kerja keras. Atau berdiam diri tanpa aktivitas sehingga menjadi miskin. Untuk yang pertama, tidak ada pertanggungjawaban terhadap apa yang ada pada dirinya, sedangkan untuk yang kedua manusia ada keharusan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan.

Ada dua macam takdir yang harus kita fahami. _Pertama_ adalah takdir _Mubram,_ yaitu ketentuan Allah Azza wa Jalla yang pasti berlaku. Semua manusia pasti akan menghadapinya, baik diinginkan ataupun tidak, serta hal tersebut tidak dapat dihalang atau ditolak oleh sesuatu apa pun. Contohnya: perkara jenis kelamin, kelahiran, perkara kematian, dan lain-lain. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla,

وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ

"Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia."

(QS. Ar-Ra'du: 11)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ رَبِّي قَالَ: يَا مُحَمَّدْ، إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لاَ يُرَدُّ

"Sesungguhnya Tuhanku berkata padaku: Wahai Muhammad! Sesungguhnya Aku kalau sudah menentukan sesuatu maka tiada seorangpun yang sanggup menolaknya."(HR. Muslim)

_Kedua,_ adalah takdir _Mu’allaq,_ yaitu takdir yang digantung atau bersyarat, dalam artian ketentuan tersebut bisa terjadi atau tidak terjadi, bahkan takdir tersebut bergantung kepada usaha manusia itu sendiri, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla,

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."(QS. Ar-Ra'du: 11)

Mengenai Takdir _Mu'allaq_ ini, agama Islam memberikan dua syarat utama untuk mengubah takdir, yaitu dengan cara memperbanyak doa dan bersilaturahmi.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

يَمْحُو اللّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ 

"Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan disisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh)."

(QS. Ar-Ra'du: 39)

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

"Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagimu."(QS. Al-Mu’min: 60)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ، وَلاَ يُزِيْدُ فِى الْعُمْرِ إِلاَّ الْبِرُّ

"Tidak ada yang mampu menolak takdir Allah kecuali doa, dan tidaklah menambah usia kecuali kebaikan."(HR. Tirmidzi)

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأُ لَهُ فِي أَثْرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

"Siapa saja yang ingin dimudahkan rezekinya, dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah menyambung silaturrahim." (HR. Bukhari)

Iman kepada takdir merupakan bagian dari rukun iman.

Pengingkaran terhadap takdir menunjukkan kerusakan iman seseorang. Jika kita mengingkari takdir maka tebusan dan taubatnya tidak akan diterima. Diriwayatkan dari Umamah, ia berkata, "Rasulullah bersabda,

ثَلاثَةٌ لا يُقْبَلُ اللَّه عَزَّ وَجَلَّ مِنْهُمْ صَرْفاً، وَلا عَدْلاً: عَاقٌّ وَلا وَمَنَّانٌ، وَمُكَذِّبٌ بِقَدْرٍ

"Tiga macam orang yang tidak akan diterima taubat ataupun tebusan mereka, orang yang durhaka, yang suka mengungkit-ngungkit pemberian, dan yang mendustakan takdir." 

(HR. Ibnu Abi ‘Ashim di dalam as-Sunnah)

Dalam suatu riwayat milik Ibnu Wahab disebutkan, Rasulullah bersabda,

فَمَن لَم يُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ أَخرَقَهُ اللَّه باِلنَّارِ

"Barangsiapa tidak beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk, maka Allah akan membakarnya dengan api Neraka." 

(Diriwayatkan oleh Ibnu Wahab di dalam al-Qadar, no.26; Ibnu Abu Ashim di dalam as-Sunnah, no.111; dan al-Ajuri di dalam asy Syari’ah, hlm.186.)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa mengimani segala takdir untuk meraih ridha-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar