Selasa, 10 Maret 2026

Ingin baik kok malah menjauh MIKIR

JANGAN BERHARAP KEBAIKAN JIKA DIRI KITA MENJAUHI DARINYA

Sobat gudang da'i, Jangan berharap kebaikan, jika diri kita menjauh darinya. Jika diri kita tak memulainya, kapan lagi waktunya. Lakukankah kebaikan. Tolonglah orang lain yang terbaik sesuai kesanggupan kita. Maka Allah Azza wa Jalla akan membalas dengan kebaikan. Karena sesungguhnya kebaikan itu akan kembali kepada kita dan keburukan itu akan mencelakai kita.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula."

Pertanda amal baik kita diterima oleh Allah Azza wa Jalla adalah Allah Azza wa Jalla memudahkan kita untuk selalu dalam kebaikan dan semakin mendekatkan diri pada Allah Azza wa Jalla. Sedang efek insaniyahnya adalah ianya dikenal perilakunya semakin baik dari waktu ke waktu. Untuk kepentingan ini, maka Allah Azza wa Jalla melapangkan dadanya dan semakin diberi kemudahan untuk senantiasa dalam ketaatan, dijauhkan dari kemaksiatan.

Sungguh diri kita kadang terkagum-kagum dengan dunia. Begitu terpesona sampai kita lupa daratan. Dunia pun dikejar-kejar tanpa pernah merasa puas. Sifat _qana’ah,_ (merasa cukup dengan setiap nikmat rizki) pun jarang dimiliki. Sehingga muncul korupsi, kolusi dan nepotisme. Demikianlah watak manusia.

Allah Azza wa Jalla menjelaskan bagaimanakah sifat dunia. Bagaimanakah keadaan harta dan kemewahan dunia lainnya. Allah Azza wa Jalla berfirman,

ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا

“Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.”

Allah Azza wa Jalla menjelaskan bahwa nikmat dunia hanyalah nikmat dan perhiasan sementara yang akan sirna. Allah Azza wa Jalla mensifatinya dengan tanaman yang terlihat kuning, padahal sebelumnya berwarna hijau nan ceria. Tanaman tersebut akhirnya pun hancur kering. Begitulah pula kehidupan dunia. Awalnya berada di masa muda, kemudian beranjak dewasa, lalu dalam keadaan lemah di usia senja. Manusia di masa mudanya begitu enak dipandang dan ia dalam kondisi fisik yang kuat dan bugar. Kemudian ia pun beranjak dewasa dan berubahlah kondisi fisiknya. Lalu ia beranjak ke usia tua senja, ketika itu dalam keadaan lemah dan sulit untuk bergerak sebagaimana mudanya. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam firman Allah Azza wa Jalla,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari Keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan kamu sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan kamu sesudah kuat itu lemah kembali dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar Ruum: 54)

Ayat di atas menunjukkan bahwa dunia pasti akan sirna dan segera kita tinggalkan. Akhirat suatu hal yang pasti akan kita temui, tanpa diragukan lagi. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla menyampaikan ancaman di akhirat dan juga memotivasi untuk meraih kebaikan di negeri yang kekal abadi. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ

“Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya.” 

Di akhirat cuma ada dua kemungkinan, yaitu mendapatkan siksa ataukah mendapatkan ampunan dari Allah Azza wa Jalla dan meraih keridhaan-Nya.

Dalam ayat ini kita diperintahkan untuk zuhud pada dunia dan lebih mementingkan akhirat. (Taisir Al Karimir Rahman, hlm. 841)

Karena sesungguhnya, kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

Disebutkan dalam sebuah hadits, dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَوْضِعُ سَوْطٍ فِى الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Satu bagian kecil nikmat di surga lebih baik dari dunia dan seisinya.”(HR. Bukhari no. 3250)

Sungguh, nikmat dunia dibanding dengan nikmat akhirat amat jauh sekali. Namun kenapa kita lebih mengharap dunia dari akhirat? Mengapa kita lebih mengharap ridha manusia daripada ridha Allah Azza wa Jalla?

Janganlah terlalu kagum dengan kehidupan dunia karena akhirat telah menunggu kita di masa depan. Dunia dengan pasti akan segera kita tinggalkan. Dunia hanyalah sebagai tempat untuk mengumpulkan berbagai bekal dengan amalan menuju negeri kekal abadi di akhirat kelak.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga tetap istiqamah senantiasa mengumpulkan bekal amal-amal terbaik menuju akhirat untuk meraih ridha-Nya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar