Jumat, 19 Desember 2025

Mengapa Harus Malu

HIASI DIRI DENGAN RASA MALU

Sobat gudang da'i, Salah satu penyebab rusaknya tatanan sosial dan moral antara lain karena hilangnya rasa malu. Maraknya korupsi, kolusi, nepotisme, praktik kebohongan, kepalsuan, keculasan dan kecurangan yang "diproduksi" secara masif selama ini memberikan bukti bahwa rasa malu dan bersalah itu sudah menipis atau bahkan hilang.

Rasa malu adalah perisai sekaligus benteng dari melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Seseorang yang senantiasa memelihara dan menjaga rasa malu akan berhati-hati, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Selalu mempertimbangkan baik buruknya sesuatu dan berpikir sebelum bertindak. Perasaan malu senantiasa mendatangkan kebaikan.

Orang yang memiliki rasa malu berarti berusaha untuk menjaga kehormatan dan kesucian diri ( iffah). Memelihara kehormatan diri dari segala hal yang akan merendahkan, merusak, dan menjatuhkannya.

Sangat penting bagi kita untuk memupuk dan menghiasi diri dengan rasa malu. Berusaha sekuat tenaga menghindari perbuatan tercela, dan berupaya menebar kebaikan. Kesadaran seorang Muslim yang didorong oleh iman, islam dan ihsannya menjadi kekuatan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan peringatan kepada kita dalam bentuk sindiran,

عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بِنْ عَمْرٍو الأَنْصَارِي الْبَدْرِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ.  رواه البخاري

"Dari Abu Mas’ûd ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshârî al-Badri radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya salah satu perkara  yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu."

(Al-Bukhâri no. 3483, 3484, 6120, Ahmad IV/121, 122, V/273, Abû Dâwud no. 4797, Ibnu Mâjah no. 4183, ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmul Ausath no. 2332, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ IV/411, VIII/129, al-Baihaqi X/192, al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah no. 3597, ath-Thayâlisi no. 655, dan Ibnu Hibbân no. 606-at-Ta’lîqâtul Hisân)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata, “Malu berasal dari kata _hayaah_ (hidup), dan ada yang berpendapat bahwa malu berasal dari kata _al-hayaa_ (hujan). Hidup dan matinya hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut. Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh seseorang. Sehingga setiap kali hati hidup, pada saat itu pula rasa malu menjadi lebih sempurna."

Malu adalah akhlak (perangai) yang mendorong kita untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela, sehingga mampu menghalangi kita dari melakukan dosa dan maksiat serta mencegah sikap melalaikan hak orang lain. Malu pada hakikatnya tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan. Malu mengajak kita agar menghias diri dengan yang mulia dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang hina. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ

“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.”(Muttafaq ‘alaihi) 

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

 اَلْـحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ

“Malu itu kebaikan seluruhnya.” (Shahîh: HR.al-Bukhâri no. 6117 dan Muslim no. 37/60)

Rasa malu merupakan bentuk keimanan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

”Malu merupakan bagian dari keimanan.” (HR. Muslim, no. 161)

Jika kamu tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah sesukamu (ini maksudnya ancaman). Hal ini sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla,

اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

”Lakukanlah sesukamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu lakukan.” (QS. Fushilat: 40)

Maksud ayat ini bukanlah maksudnya agar kita melakukan sesuka kita termasuk perkara maksiat. Namun, maksud ayat ini adalah ancaman, jika kita tidak memiliki rasa malu, lakukanlah sesukanya, mainkanlah kekuasaan dan hukum dengan semena-mena, tapi pasti kita akan menanggung akibatnya.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa berhias diri dengan rasa malu untuk meraih ridha-Nya.

Senin, 08 Desember 2025

Apa Bekal Perjalanan Jauhmu?

PERSIAPKANLAH UNTUK UJUNG PERJALANAN KEHIDUPAN


Sobat gudang da'i, Kekuasaan Allah Azza wa Jalla meliputi segala sesuatu. Dia telah menetapkan ujung perjalanan kehidupan, yakni kematian atas diri manusia. Sehingga sekuat dan sehebat apapun manusia berupaya menghindar darinya, kematian itu tetap akan mengejarnya. Allah Azza wa Jalla berfirman,

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh."(QS. An Nisa’:78)

Sudah sepatutnyalah kita selalu ingat bahwa hidup di dunia tidaklah kekal abadi. Agar kita bersiap diri dengan perbekalan yang dibutuhkannya saat perjalanannya yang panjang nanti.

Syumaith bin ‘Ajlan berkata,

مَنْ جَعَلَ الْمَوْتَ نُصْبَ عَيْنَيْهِ, لَمْ يُبَالِ بِضَيْقِ الدُّنْيَا وَلاَ بِسَعَتِهَا

"Barangsiapa menjadikan maut di hadapan kedua matanya, dia tidak peduli dengan kesempitan dunia atau keluasannya." 

(Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm. 483, tahqiq Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi

Orang yang berakal akan mengutamakan urusan akhirat yang pasti datang, dan mengalahkan urusan dunia yang pasti ditinggalkan.

Hamid Al Qaishari mengingatkan kepada kita, “Kita semua telah meyakini kematian, tetapi kita tidak melihat orang yang bersiap-siap menghadapinya! Kita semua telah meyakini adanya surga, tetapi kita tidak melihat orang yang beramal untuknya! Kita semua telah meyakini adanya neraka, tetapi kita tidak melihat orang yang takut terhadapnya! 

Maka terhadap apa kamu bergembira? Kemungkinan apakah yang kamu nantikan? Kematian! Itulah perkara pertama kali yang akan datang kepadamu dengan membawa kebaikan atau keburukan. Wahai, saudara-saudaraku! Berjalanlah menghadap Penguasamu (Allah) dengan perjalanan yang bagus.”

(Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm. 483, tahqiq: Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi)

Betapa penting mempersiapkan diri menghadapi kematian, yang merupakan ujung perjalanan kehidupan yang dihadapi setiap insan.

Imam Ibnu Majah meriwayatkan,

عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جِنَازَةٍ فَجَلَسَ عَلَى شَفِيرِ الْقَبْرِ فَبَكَى حَتَّى بَلَّ الثَّرَى ثُمَّ قَالَ يَا إِخْوَانِي لِمِثْلِ هَذَا فَأَعِدُّوا

Dari Al Bara’, dia berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu jenazah, lalu Beliau duduk di tepi kubur, kemudian Beliau menangis sehingga tanah menjadi basah, lalu Beliau bersabda: “Wahai, saudara-saudaraku! Maka persiapkanlah untuk yang seperti ini!” 

(HR Ibnu Majah, no. 4.190, dihasankan oleh Syaikh Al Albani)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa mengingat kematian sebagai ujung perjalanan kehidupan kita di dunia dan kita persiapkan bekal amal terbaik di akhirat untuk meraih ridha-Nya.

Selasa, 02 Desember 2025

Takdir Keliru?!

TIDAK ADA TAKDIR YANG KELIRU

Sobat gudang da'i, Salah satu kaidah kehidupan yang perlu kita pahami dan yakini agar tak larut dalam kesedihan panjang adalah bahwa "tidak ada takdir yang keliru." Apa yang kita harapkan terjadi pada kita dan ternyata tak terwujud nyata terjadi pada kita tidaklah bermakna bahwa takdir yang salah tempat, salah orang, salah waktu dan salah sasaran. Bukankah memang tak setiap keinginan harus menjadi kenyataan?

Apa yang memang menjadi takdir kita pasti akan tiba pada kita betapapun menurut nalar kita sesuatu itu tidak mungkin menjadi takdir kita. Orang yang tak beriman kepada Allah Azza wa Jalla akan menghabiskan waktu menyalahkan orang lain, menyalahkan apapun yang memungkinkan dirinya memiliki alasan kuat menolak kenyataan. Sikap semacam ini akan mengantarkan pelakunya gagal untuk bersabar dan bersyukur demi masa depan yang lebih baik. Inilah pesan rahasia yang terkandung dalam kalimat _innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun._ (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya). Pesan dan semangat kalimat inilah sesungguhnya cara paling tepat untuk menghibur diri dari kegagalan diri meraih takdir yang diharapkan.

Marilah kita tanamkan kesadaran dalam diri kita bahwa kita adalah seorang hamba. Bisanya kita adalah berihtiar, berharap dan berdoa. Selanjutnya adalah bertawakkal (berserah diri) atas kehendak dan kuasa Allah Azza wa Jalla yang menentukan segalanya. Kehendak, pengaturan dan kuasa-Nya adalah yang terbaik karena Dia adalah Dzat Yang Maha Baik, Maha Bijak, Maha Indah dan segenap sifat sempurna lainnya.

Dalam Al Qur’an Allah Azza wa Jalla berfirman,

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَافِي السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ {70}

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al Hajj: 70)

Sedangkan dalil dari As Sunnah, di antaranya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”

Kita harus mengimani bahwa kehendak Allah Azza wa Jalla meliputi segala sesuatu, baik yang terjadi maupun yang tidak terjadi, baik perkara besar maupun kecil, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik yang terjadi di langit maupun di bumi. Semuanya terjadi atas kehendak Allah Azza wa Jalla. Dan karena semuanya adalah milik Allah Azza wa Jalla maka tidak ada satu pun dari milik-Nya itu yang tidak diketahui dan tidak dikehendaki oleh-Nya.

Takdir adalah ketetapan Allah Azza wa Jalla sebelum penciptaan langit dan bumi ketika Allah Azza wa Jalla menciptakan _qalam_ (pena). Allah Azza wa Jalla berfirman,

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلاَّ مَاكَتَبَ اللهُ لَنَا هُوَ مَوْلاَنَا وَعَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ {51}

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.” (QS. At Taubah: 51)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita tetap istiqamah senantiasa berdoa, berihtiar dan bertawakkal kepada Allah Azza wa Jalla atas segala kehendak-Nya untuk meraih ridha-Nya.